Berita Tulungagung

Kisah Penambang Pasir Tradisional Tulungagung, Bertahan di Tengah 'Gerusan' Tambang Pasir Ilegal

Sesekali kepala mereka masuk ke dalam air untuk mendapatkan pasir yang diinginkan.

Kisah Penambang Pasir Tradisional Tulungagung, Bertahan di Tengah 'Gerusan' Tambang Pasir Ilegal
surya/david yohannes
Seorang penambang pasir tradisional mengeruk pasir dari dasar Sungai Brantas, dan memasukkan ke dalam perahu. 

Setiap perahu biasanya dioperasikan empat orang. Perahu ini juga disewakan Rp 10.000 untuk mengangkut pasir seukuran satu truk engkel.

Tidak ada yang tahu pasti, sejak kapan penambangan pasir tradisional Ngunut ini mulai beroperasi.

Namun diperkirakan sudah ada lebih dari 10 tahun.

Mereka beroperasi sebelum tambang pasir ilegal dengan mesin penyedot, atau tambang mekanik beroperasi.

Mereka bertahan dengan cara legal ini, meski di sekitar mereka mesin-mesin penyedot beroperasi.

Di sisi barat, di tepi utara tempat para penambang ini terlihat mesin penyedot menderu dengan suara keras.

Meski dilarang dan dianggap ilegal, mesin menyedot tersebut bebas beroperasi di wilayah Gandekan, Kecamatan Wonodadi.

“Kami memilih yang begini saja (cara tradisional) dari pada takut kena razia. Lebih baik dapat sedikit tetapi hati tenang,” ujar seorang penambang lain.

Penambang pasir tradisional di Sungai Brantas Desa/Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung menurunkan muatan pasir dari perahu.
Penambang pasir tradisional di Sungai Brantas Desa/Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung menurunkan muatan pasir dari perahu. (surya/david yohannes)

Untuk satu truk engkel, pasir dari para penambang tradisional ini dijual Rp 480.000.

Harga tersebut sudah termasuk biaya menaikkan pasir ke atas truk.

Halaman
1234
Penulis: David Yohanes
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved