Sambang Kampung Simokerto

Warga Semangat Dirikan Bank Sampah, tetapi Terkandala Lahan 

Warga Kampung RT 5 RW 3 Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto kini sedang semangat membangun kampung.

Warga Semangat Dirikan Bank Sampah, tetapi Terkandala Lahan 
surya/ahmad zaimul haq
Salah satu sudut gang kampung Simokerto terlihat asri dengan mural dan tanaman gantung. 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Warga Kampung RT 5 RW 3 Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto kini sedang semangat membangun kampung.

Mulai membuat hijau kampung sampai menjaga kebersihan bantaran sungai. Terlebih kampung ini baru saja dinobatkan juara 2 kampung terbaik dalam kategori lomba kampung bantaran sungai dalam program Merdeka Dari Sampah besutan Pemkot Surabaya.

Akan tetapi, warga kampung ini masih memiliki keinginan untuk mengembangkan lingkungan kampung. Salah satunya membangun bank sampah.

Namun kawasan padat penduduk dengan kepadatan 40 KK ini terbilang susah untuk mewujdukannya.

"Kendala utamanya adalah lahan. Kami tidak memiliki lahan yang cukup luas untuk mendirikan bank sampah. Padahal bank sampah butuh gudang dan tempat pemilahan," ucap Ketua RT 5, Aspiyah.

Selain itu warga di sini masih belum terbiasa untuk melakukan pemilihan dan pemilahan sampah kering dan basah. Sehingga masih membutuhkan edukasi dan pelatihan ke warga.

Menuurtnya, ia optimistis jika warga kampungnya mau diajak untuk memilah sampah. Akan tetapi selama ini masih belum ada motivator lingkunan yang membimbing pemilahan dan pengolahan sampah.

"Siapa tahu, kalau ada motivator yang ke sini bisa dibantu mencarikan tempat unntuk bisa dijadikan sebagai bank sampah," katanya.

Karena, ia mengaku sempat sharing dengan warga kampungnya, dan mengatakan bahwa warganya sudah mau jika diajjak untuk mengolah sampah. Akan tetapi butuh tempat yang luas untuk melakukan perngoalahn sampah trsebut.

"Kan enakk kalau uangnya bisa digunakan untuk rekreasi kampung. Itu benar menjadi kekuatan kampung untuk dimafaatkan ke kampung juga," ucap Aspiyah.

Selama ini dalam hal pengolahan sampah, warga hanya membuang sampah seccara rutin. Belum ada pemanfaan sampah kering dan juga daur ulang.

Padahal potensi di kampung ini dikatakan Aspiyah ada. Seperti UKM yang menjalankan bisnis handy craft.

"Saya punya keinginan agar kampung kami bisa memiliki produk unggulan. Dan bisa dijual untuk menambah penghasilan warga yang kebanyakan menengah ke bawah," pungkasya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved