Berita Ekonomi Bisnis

Ekspor - Impor Jatim pada Desember 2017 Defisit, Ketua GPEI Jatim Beralasan 3 Hal ini Penyebabnya

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyampaikan data ekspor dan impor di Jawa Timur sepanjang Desember 2017 mengalami defisit.

Ekspor - Impor Jatim pada Desember 2017 Defisit, Ketua GPEI Jatim Beralasan 3 Hal ini Penyebabnya
surya/sri handi lestari
Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono menyampaikan data inflasi di Jatim di bulan Desember dan tahun 2017. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyampaikan data ekspor dan impor di Jawa Timur sepanjang Desember 2017 mengalami defisit.

Tercatat di bulan Desember 2017, ekspor di Jatim mencapai 1,55 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Dibandingkan bulan November 2017 turun 12,29 persen. Sementara impor di bulan Desember 2017 mencapai 2,02 miliar dolar AS.

"Lebih tinggi atau naik dibandingkan bulan November 2017 sebesar 0,67 persen," jelas Teguh Pramono, Kepala BPS Jatim, Senin (15/1/2018).

Angka itu sudah sejak awal tahun menunjukkan defisit.

Menurut Isdarmawan Asrikan, Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor - Impor (GPEI) Jatim, kondisi ini memang karena tiga hal.

"Pertama, kondisi pasar ekspor yang memang masih lesu. Sehingga harus bisa mengembangkan pasar-pasar baru untuk produk-produk dari Jatim ini," kata Isdarmawan, saat dihubungi Senin (15/1/2018).

Kedua, karena masih adanya hambatan untuk meningkatkan potensi ekspor ini. Antara lain hambatan di sektor biaya logistik dan peraturan yang kurang mendukung. Sehingga daya saing produk berkurang. 

Ketiga, kurangnya dukungan modal perbankan dalam pengembangan usaha berorientasi ekspor dengan produk bahan baku impor yang masih memberikan bunga kredit dua digit.

"Sehingga pengusaha yang ingin mengembangkan usaha, dengan tambah modal, misalnya bahan baku yang harus impor, masih belum berani ambil kredit di bank, karena bunga tinggi," ungkap Isdarmawan.

Catatan dari GPEI, ekspor dan impor di Jatim di tahun 2017 masih dibawah 5 persen. Untuk ekpor sudah pasti hal itu membuat industri lebih stagnan.

Sementara impor yang rendah, bagi mayoritas produk ekspor di Jatim yang merupakan manufaktur atau perakitan, menunjukkan kemampuan bahan baku yang rendah.

Karena bahan baku yang diimpor rendah, produksi juga rendah, untuk ekspor menjadi sulit. Apalagi bila pasar juga sedang melambat.

Namun, untuk tahun 2018, Isdarmawan masih optimis ekpor dan impor di Jatim akan tumbuh 10 persen.

Hal itu didasari dengan peningkatan infrastruktur di Jatim yang cukup agresif. Termasuk pengembangan usaha yang pindah ke daerah di luar ring I, seperti Lamongan, Jombang, Nganjuk, Kediri dan sekitarnya yang berpotensi untuk berkembang lebih tinggi.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved