Lifestyle

Penasaran Mengapa Restoran Kerap Suguhkan Hiburan Musik? Ternyata ini Alasannya

Kerap dapat suguhan lagu atau alunan musik saat makan di restoran? Kalau iya, ternyata itu bukan tanpa alasan lho. Ini kata penelitinya...

Penasaran Mengapa Restoran Kerap Suguhkan Hiburan Musik? Ternyata ini Alasannya
ist/cookbook
Ilustrasi 

SURYA.co.id | MALANG - Anda kerap mendapat suguhan lagu atau alunan instrumen musik saat sedang menyantap makanan di restoran? Kalau iya, ternyata itu bukan tanpa alasan lho. 

Hal ini dibuktikan oleh dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Kiki Fibrianto STP MPhill PhD dan timnya yang meneliti pengaruh musik terhadap persepsi cita rasa suatu makanan pada manusia.

“Ada banyak faktor mengapa seseorang memiliki persepsi dan ekspektasi berbeda-beda terhadap suatu makanan. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah suara musik yang didengarkan,” katanya, Rabu (10/1/2018).

Musik sebagai faktor luar menstimulus dan menpengaruhi otak untuk menciptakan persepsi terhadap rasa suatu makanan.

“Penelitian yang kami lakukan saat ini adalah dengan memperdengarkan musik klasik Mozart saat seseorang mengonsumsi cokelat,” kata Kiki.

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Kiki Fibrianto STP MPhill PhD, peneliti pengaruh musik terhadap persepsi cita rasa suatu makanan
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Kiki Fibrianto STP MPhill PhD, peneliti pengaruh musik terhadap persepsi cita rasa suatu makanan (surabaya.tribunnews.com/neneng uswatun hasanah)

Hasilnya, musik Mozart mempertajam rasa pahit dan aroma panggang dari cokelat.

“Penelitian lain di luar negeri adalah pengaruh musik klsik pada saat meminum wine. Hasilnya, timbul rasa yang tidak muncul saat diminum tanpa mendengarkan musik klasik,” lanjut sekretaris jurusan Teknologi Hasil Pertanian itu.

Pengaruh musik klasik juga ia teliti saat seseorang mengonsumsi teh hijau. Hasilnya, teh hijau yang diminum sambil diperdengarkan lagu klasik lebih terasa efek menenangkannya daripada ketika tanpa mendengarkan musik.

“Musik memiliki frekuensi tertentu. Setiap nada dasar pada musik dipersepsikan otak dengan cara yang berbeda pula. Frekuensi musik inilah yang memberikan ekstra stimulus pada apa yang dirasakan saat makan atau minum. Musik juga berhubungan dengan produksi saliva dan kortisol,” terang lulusan Universitas Queensland Australia itu.

Kiki dan tim berkeinginan untuk terus melanjutkan penelitian tersebut pada ranah musik tradisional dan makanan khas Indonesia. Namun sayangnya literatur mengenai hal tersebut masih sangat minim hingga terbilang tidak ada.

“Jadi kami masih termasuk yang pertama meneliti hal ini. Kami sebagai akademisi teknologi hasil pertanian tentu merasa ini ranah penting untuk tidak hanya meneliti produksi pertanian menjadi bahan pangan tapi juga fase akhir ketika makanan itu konsumsi,” tuturnya. 

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved