Persona

Aprischa Prima Andini, Mahasiswi Unesa yang Dapat Banyak Pelajaran Hidup Dari Bermusik

Aprischa Prima Andini mendapat banyak pelajaran hidup dari bermusik. Inilah kisah tentang peniup Saksofon dari Unesa tersebut.

ist/dok.pribadi
Aprischa Prima Andini 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pelajaran hidup bisa diperoleh dari banyak hal. Dan Aprischa Prima Andini mengaku banyak pelajaran hidup justru dia dapat dari bermusik.

Yang paling prinsip adalah soal disiplin, komitmen, kekompakan, dan kreativitas. Selain itu juga menahan ego, menghargai teman dan tim, terutama bermusik dalam kelompok band maupun orchestra.

Gadis yang akrab disapa Icha ini lalu menunjuk beberapa contoh yang dia amati selama bermusik dan menjadi catatan dalam perjalanan hidupnya.

“Seperti teman yang datang selalu terlambat dalam latihan. Ada juga yang mengganggap remeh latihan karena merasa lebih jago. Ada pula yang last minute sebelum on the stage baru datang,” bebernya.

Bahkan ada juga yang tanpa latihan langsung on stage aja. Lagu pelajari sendiri, padahal personil band lainnya menyempatkan diri datang latihan.

“Perilaku ini membuat mood tim jadi kurang bagus. Jadi, yah cukup jadi bahan pelajaran aja dalam hidup dan itu asyik,” celetuk peniup alto saxophone ini sambil tersenyum.

Icha yang kelahiran Surabaya, 7 April 1997 ini mengaku nyaman dalam bermusik. “Buatku music is freedom. Karena dengan musik aku bisa bebas mengekspresikan diri seperti apapun yang aku mau,” tandasnya.

Soal bermusik, Icha yang masih menempuh pendidikan di Prodi Seni Musik Jurusan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya ini menegaskan tak mematok genre tertentu. Tetapi di antara semua genre musik yang sering dia dengarkan, dia lebih suka menikmati genre pop dan genre EDM yang saat ini memang lagi marak.

“Kalau sekadar menikmati, aku dengarkan semua genre musik. Itu penting buat referensi. Siapa tau dari genre yang ada saat ini nantinya bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang baru, seperti fusion jazz misalnya yang menggabungkan antara beberapa genre di dalam satu lagu,” urai anak pertama dari dua bersaudara ini.

Icha tak menepis, peran orangtua cukup besar sehingga dia makin antusias mendalami musik. Begitu antusiasnya orangtua dalam memberi semangat bermusik, diakui Icha justru sering terlalu dalam dalam mengekspresikan ego mereka.

“Yang sering terjadi, ego orangtua kami malah seringkali muncul. Padahal kami yang personel band ini menanggapi satu permasalahan misalnya, biasa-biasa saja. Sedang orangtua lebih sensitif sehingga sedikit saja timbul konflik. Efeknya ya gitu deh, formasi band kami waktu masih kecil dulu jadi sering bubar,” ungkapnya sambil tertawa.

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved