Sosok

Soal Melindungi Diri, Gadis asal Jombang ini Belajar Wing Chun sejak SMA, Hasilnya Tak Terduga

“Aku kan perempuan, perlu ilmu agar bisa menjaga diri sendiri,” papar Missil Balistiana.

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Parmin
surya/achmad pramudito
Missil Balistiana. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Olahraga bela diri bagi perempuan kini memang bukan hal aneh. Di saat tingkat kejahatan masih tinggi, tentu siapa pun harus membekali diri dengan kemampuan melindungi
diri sendiri.

“Aku kan perempuan, perlu ilmu agar bisa menjaga diri sendiri. Apalagi pekerjaanku yang
memungkinkan bertemu banyak orang dengan macam-macam karakter,” papar Missil
Balistiana.

Menurut Missil punya ketrampilan untuk jaga diri lebih penting daripada harus bergantung pada
orang lain.

“Bagi keluarga saya, beladiri itu wajib bukan untk berkelahi melainkan untuk jaga diri
dan penguasaan diri terhadap kontrol emosi,” ujar anak sulung dari tiga bersaudara ini.

Wing chun adalah olahraga bela diri yang dipilih Missil.

“Bela diri ini bisa dan mudah dilakukan oleh siapa pun, tak terkecuali orangtua dan wanita,” ungkap Missil yang sehari-hari bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan swasta.

Missil lalu memapar mengenai wing chun. “Wing chun merupakan bela diri yang tidak
menggunakan kekuatan. Dengan memusatkan gerakan pada sikut, para pengguna wing chun
melakukan gerakan berdasarkan reflex,” bebernya.

Intinya, lanjut Missil, wing chun adalah bela diri yang 'kosong tapi isi'. Semua gerakan dilakukan tanpa kekuatan, namun tetap bisa menghancurkan lawan.

“Itu alasannya kenapa saya suka wing chun,” ucap Missil.

Alasan lain ternyata Missil mengaku penggemar berat Bruce Lee. “Dia kan murid pertama Ip
Man pencipta wingchun. Dulu habis nonton sekuel film Ip Man yang dbintangi Donnie Yen aku
jadi makin ingin pelajari wing chun,” kata penyandang gelar Sarjana Hukum dari Universitas
Muhammadiyah Malang ini.

Menurut perempuan kelahiran Jombang, 31 Oktober 1988 ini, dirinya mendalami olahraga bela
diri mulai kelas 2 SMA.

“Tetapi, khusus wing chun ini baru aku tekuni sekitar setahun belakangan,” imbuhnya.

Cedera saat menjalani latihan wing chun, bagi Missil adalah risiko yang harus siap diterima
ketika seseorang serius mempelajari bela diri, apa pun jenis bela diri yang dipilihnya.

“Cedera saat berlatih cuma terkilir. Tapi cedera saat bertanding paling parah saya kena tendang bagian
pinggul depan dekat perut yang hampir kena rahim,” katanya.

Namun, perempuan keturunan Tionghoa ini tak kapok akibat cedera yang pernah dia alami itu.

“Efek yang aku alami waktu itu, seperti datang bulan (menstruasi) sebulan,” urainya.

Missil masih berlatih setiap minggu dua kali. Selain wing chun, Missil masih meluangkan
waktunya untuk nge-gym.

“Itu saya lakukan bila tidak ada jadwal ketemu nasabah,” ucapnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved