Berita Surabaya

Pentas Pamungkas Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara: Guru Harus Masuk Bui Gara-Gara Dana BOS

Bui, sebuah karya Akhudiat diadaptasi dalam pementasan ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara.

Pentas Pamungkas Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara: Guru Harus Masuk Bui Gara-Gara Dana BOS
surabaya.tribunnews.com/achmad pramudito
Bandar narkoba (di luar penjara) sedang mengolok-olok sang guru yang harus masuk ‘Bui’ untuk perbuatan yang tidak dia akui kebenarannya. 

‘Penjara dimana-mana sama seperti negara. Tidak di Amerika, Rusia, Cina, juga republik bangsa kita. Negara adalah penjara besar, lebih besar dan keras seperti tempurung. Dan saya seperti kodok, tidak bisa membedakan antara ngorek dan ngorok.’

SURYA.co.id | SURABAYA - Bagian dari cerita karya budayawan Akhudiat ini menarik perhatian seniman ludruk Meimura yang kemudian mengadaptasinya dalam bentuk cerita ludruk dengan judul sama, Bui.

Namun, Meimura mencoba menampilkan dengan semangat kekinian sehingga tetap menarik penonton.

Tokoh utama misalnya sengaja ditampilkan dua penghuni penjara, yaitu seorang guru (diperani Kasas Agung) yang divonis bersalah karena korupsi dana BOS, serta bandar narkoba (diperankan oleh Hengky Kusuma) yang dengan kejeliannya berhasil memanfaatkan situasi dan justru menjadi berkuasa di penjara.

Dengan uang yang dia miliki, bandar narkoba ini bisa ‘menaklukkan’ para sipir penjara. Dia bebas melakukan apa saja di area bui tersebut, termasuk melakukan aktivitas di luar jeruji besi dan juga menikmati fasilitas telepon seluler untuk berkomunikasi dengan istrinya.

“Di dunia ini tak ada yang gratis,” sergah si bandar narkoba kepada pak guru yang baru saja menjadi penghuni bui.

Karena tidak gratis itu pula, pak guru harus puas menikmati asap rokok yang dihembuskan oleh bandar narkoba dari balik jeruji besi. Sebelumnya, bandar narkoba ini sempat menawarkan rokok pada guru tersebut.

“Tapi, kamu harus bayar Rp 6.000 untuk setiap hisapan,” tandasnya. Karena si guru tak punya uang, maka dia pasrah hanya mendapat hembusan asap rokok dari si bandar narkoba.

Pentas ludruk dengan durasi 90 menit itu bakal disajikan di tobong Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara di Gedung THR Surabaya, Sabtu (30/12) malam. Selain Kasas Agung dan Hengky Kusuma, hadir pula empat orang sipir yang masing-masing diperani oleh Said Kelana, Sutrisno, Pakde Puryadi, dan Sabil Lugito.

Meimura sang sutradara, tokoh guru sengaja diangkat dalam cerita ‘Bui’ lantaran dia menganggap guru sebagai sosok yang harus dimuliakan. Meimura berharap lewat cerita ini ada pendidikan karakter bagi masyarakat agar tidak melakukan sesuatu yang bisa menjerumuskan diri pada tindak kriminal dan berbuah penjara.

“Guru itu orang pilihan. Jika sosok ini melakukan tindak kriminal, tak ada lagi yang bisa jadi panutan bagi murid-murid sebagai generasi masa depan,” bebernya.

‘Bui’ bakal menjadi pertunjukan pamungkas ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya di ujung tahun 2017. Selama di tobong THR, Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara sudah menghadirkan sejumlah pementasan, seperti ‘Mentang-Mentang dari New York’ karya Marchelino Frans, ‘Ayahku Pulang’ (Usmar Ismail), dan Malam Jahanam (Motingo Busye).

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved