Berita Surabaya

Perguruan Tinggi Tuntut Siswa Jadi Pembelajar

Rektor Unesa, Prof Warsono, mengatakan bahwa sekolah dan perguruan tinggi perlu bersinergi untuk menyiapkan anak didik.

Perguruan Tinggi Tuntut Siswa Jadi Pembelajar
surabaya.tribunnews.com/Sulvi Sofiana
Mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya saat dikukuhkan sebagai Garda Unesa usai upacara kemerdekaan Indonesia ke - 72 di Kampus Lidah Wetan, Kamis (17/8/2017) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tantangan yang dihadapi siswa SMA ke depan semakin besar. Sekolah diminta mempersiapkan siswa sebaik-baiknya. Tidak cukup di situ, perlu sinergisitas dengan perguruan tinggi sebagai wadah melanjutkan pendidikan.

Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Warsono mengatakan, sekolah dan perguruan tinggi mempunyai tugas sama, yakni mendidik. Perlu ada kontinuitas pendidikan dalam menyiapkan anak menghadapi tantangan ke depan.

"Kami akan menyiapkan siswa jadi pembelajar," jelasnya usai pertemuan dengan kepala SMA se Surabaya, Selasa (19/12/2017).

Dengan jadi pembelajar, lanjut dia, siswa terlatih mengatasi masalah-masalah baru. Utamanya yang belum dipelajari ketika duduk di bangku sekolah atau perkuliahan.

"Apa yang dipelajari sekarang belum tentu cocok di masa depan. Kalau jadi pembelajar, mereka akan siap mengatasi berbagai masalah," terangnya.

Menurutnya, koneksi SMA dengan perguruan tinggi sangat dibutuhkan. Bila ilmu di SMA belum cukup bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, pihaknya siap berbagi pengalaman dan memberi motivasi kepada kepala sekolah agar menyiapkan siswa.

Sementara terkait model masuk perguruan tinggi negeri, Warsono mengaku masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Antara lain menggunakan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan jalur mandiri.

Wakil Rektor 1 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Heru Setyawan menambahkan, pada dasarnya pendidikan untuk menyiapkan anak menghadapi tantangan masa depan. Perlu pengajaran bagaimana cara belajar yang baik kepada siswa. Dengan begitu, siswa bisa menerima substansi ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan.

"Analogi atau cara berpikir dalam hukum fisika, misalnya. Itu nanti bisa digunakan mengatasi masalah-masalah lain. Pemahaman ini untuk menghadapi tantangan masa depan," ujar guru besar dari Jurusan Teknik Industri ini.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim di Surabaya, Sukaryantho mengatakan, perguruan tinggi merupakan embrionya ilmuan dan entrepreneur. Koneksi antara SMA dengan perguruan tinggi bisa menjadi jembatan untuk mengetahui konsep pembelajar sejati.

"Ada proses yang harus dilakukan guru di sekolah sebelum siswa masuk perguruan tinggi. Kegiatan ini proses keberlangsungan untuk memberikan inspirasi pada kepala sekolah untuk menghadapi tantangan ke depan,"pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved