Minggu, 12 April 2026

BKKBN Berdayakan Warga dengan Kampung KB, Berhasil Tekan Angka Pernikahan Dini

Tujuan utama pembangunan Kampung KB adalah bagaimana keluarga di kampung itu makin bisa merencanakan keluarga mereka

Editor: Cak Sur
SURYA Online/Nuraini Faiq
KAMPUNG KB - Salah satu kegiatan di Kampung KB Desa Kweden Kembar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Sejak tahun 2017 lalu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menginisiasi lahirnya Kampung KB. Tujuan utama pembangunan Kampung KB adalah bagaimana keluarga di kampung itu makin bisa merencanakan keluarga mereka agar hidup bahagia dan sejahtera.

Caranya dengan menekan kelahiran di masing-masing keluarga. Awalnya, Kampung KB ini dibangun di kampung yang tingkat partisipasi KB warganya rendah. Ternyata di Jawa Timur (Jatim), Kampung KB ini makin berkembang. Tidak hanya mengatur kelahiran dalam keluaga, namun kini berkembang dan menjadi kampung dimana perencanaan strategis keluarga dibangun di situ.

Kampung KB ini pula yang menumbuhkan pemberdayaan ekonomi warga. Para kader KB dikerahkan untuk membangkitkan kepedulian warga pada KB. Dan saat ini, di seluruh Jatim ada 664 Kampung KB.

"Di 38 kabupaten dan kota di Jatim, kami menargetkan ada satu Kampung KB di setiap kecamatan. Di Jatim ada 664 kecamatan. Dan tahun ini terpenuhi," kata Kepala BKKBN Jatim, Yenrizal Makmur, Sabtu (16/12/2017).

Memasuki 2018, BKKBN Jatim kini harus meningkatkan jumlah Kampung KB agar bisa menyebar di semua kampung yang tegolong miskin. Setidaknya, 50 persen dari jumlah kampung miskin di Jatim harus ada Kampung KB-nya.

Yenrizal patut bangga, karena kini keberadaan Kampung KB di Jatim memberi nilai tambah pada kemajuan kampung. Tak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat ber-KB.

Kampung KB juga lebih dari sekadar program nasional bertujuan menekan jumlah penduduk.
Tapi lebih dari itu. Misalnya di Mojokerto, Banyuwangi, Kediri, Jember, dan banyak kota lain di Jatim, keberadan Kampung KB telah berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi warga.

Di Banyuwangi, Kampung KB dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf ekonomi warga. Begitu juga di daerah lain, semua kelompok kerja (pokja) dan kader Kampung KB totalitas membangun kampung itu.
Ada empat program Kampung KB. Yakni pendewasaan usia pernikahan (PUP), pemakaian alat kontrasepsi, ketahanan keluarga, dan peningkatan ekonomi produktif.

"KB itu tak hanya sekadar meningkatkan peserta pengguna alat kontrasepsi dan menekan jumlah penduduk. Namun KB lebih mendidik masyarakat untuk memiliki perencanaan dalam membangun keluarga dan memberikan dampak strategis jangka panjang," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Saat ini hampir seluruh desa di Banyuwangi telah menerapkan program Kampung KB. Anas mengatakan Kampung KB di Banyuwangi diintegrasikan dengan pelayanan kesehatan, mulai dari Puskesmas hingga Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

"Ini justru memperkuat ketahanan keluarga hingga di level desa. Bekerja sama denga posyandu, akan ada pemeriksaan kesehatan anak, orang lanjut usia, serta konseling," ujar Anas.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPP&KB) Banyuwangi, Muhammad Pua Jiwa mengatakan, tidak hanya program yang berkaitan dengan KB, tapi juga peningkatan kesejahteraan keluarga.

"Banyak program digelar. Misalnya bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi warga,” ujar Pua.

Ada pokja dari berbagai unsur mulai staf Puskesmas, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), staf Kantor Urusan Agama (KUA), hingga kader PKK desa.

"Kelompok kerja ini akan melakuan berbagai program pendampingan untuk masyarakat seperti bina keluarga dengan sasaran balita, remaja, lansia, dan pelatihan kewirausahaan,” cetus Pua.

Misalnya, di Kampung KB Dusun Sidomulyo dilakukan pelatihan pembuatan makanan kering berbahan dasar buah (dried fruit), pengolahan ikan lele menjadi aneka penganan, seperti siomay, tahu isi, dan lainnya.

Selain itu petani di dusun tersebut juga diarahkan untuk bisa menjual hasil pertanian mereka lewat pasar online misalnya Banyuwangi Mall.

Tekan Pernikahan Dini
Program Kampung KB juga berhasil menurunkan jumlah keluarga pra-sejahtera di Lingkungan Trenggilis, Kelurahan Blooto, Kota Mojokerto. Selain itu, jika sebelumnya banyak remaja yang menikah di usia terlalu dini, lambat laun jumlah tersebut mengalami penurunan.

Pengembangan Kampung KB di Trenggilis tidaklah mudah. Ada beberapa syarat yang menjadi pertimbangan, yakni memiliki wilayah yang bersebelahan langsung dengan jalur kereta api dan memiliki jumlah penduduk padat. Di samping itu di lingkungan ini, pencapaian target KB-nya masih rendah. Dimana perkawinan usia dini, di bawah umur 20 tahun termasuk terbanyak untuk Kota Mojokerto.

"Sekitar tiga sampai empat tahun lalu, masih banyak remaja yang menikah setelah lulus SMP. Tapi seiring berjalannya waktu, angka itu terus menurun setelah masuk dalam program pencanangan Kampung KB," kata Ketua RT 4 Trenggilis, Nyono, saat ditemui, Jumat (15/12/2017).

Di Trenggilis ada empat RT dalam satu RW yang menjadi kampung percontohan KB. Di dalamnya terdapat program untuk ibu dan anak. Seperti, Posyandu untuk balita dan lansia, sosialisasi BPJS dan Jaminan Kesehatan Masyarakat, serta operasional pelayanan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

Selain program pendidikan, kesehatan, dan KB, Kampung KB juga menyentuh aspek ekonomi. Dimana semua warga di Trenggilis diberdayakan dan dibekali dengan pelatihan dan pendampingan.

"Kesadaran masyarakat mulai terbangun, warga jauh lebih mengerti kualitas kesehatan, pendidikan, mitra usaha, dan masih banyak lagi," jelas pria 54 tahun ini.

Ketelatenan dan kinerja pemerintah yang turut andil dalam menyukseskan program Kampung KB ini, berdampak banyak bagi masyarakat Kota Onde-onde. Dukungan melalui intervensi program dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah(OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Mojokerto dapat membuahkam hasil sedikit demi sedikit. (ook/fai/ry)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved