Minggu, 10 Mei 2026

Citizen Reporter

Tradisi Mencekam Batu Pemali di Puncak Mandeu Belu

disaksikan semua warga, para suku saling mengangkat sumpah, bahkan disertai minum darah, demi kuatnya sumpah yang mengikat di antara mereka...

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
adrianus jefri lopes/citizen reporter
sesaji sirih dan pinang dalam tradisi angkat sumpah warga Belu di NTT 

Reportase Adrianus Jefri Lopes
Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

 

PADA bulan Juli hingga November masyarakat di Kabupaten Belu dan Malaka Nusa Tenggara Timur (NTT), melakukan persembahan tahunan di tempat pemali, seperti Ksadan Lulik (batu pemali) di puncak Gunung Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Desa Faturika.

Lokasi ini bisa ditempuh dari Kota Atambua dalam dua jam perjalanan. Ritual yang biasa dilakukan di tempat ini berupa pemotongan hewan, seperti kerbau dan ayam.

Tak lupa menyisipkan beberapa helai daun sirih dan pinang sebagai rasa terima kasih, bersyukur kepada leluhur dan sang maha pencipta.

Dalam keyakinan warga Belu, ruh leluhur dan alam sangat kental hubungannya. Mereka meyakini leluhur  mendiami alam yang disakralkan sejak jaman nenek moyang.

Salah satunya di batu pemali yang terdapat di hutan adat dan tempat-tempat pemali lainnya.

Ksadan lulik ini terbentuk dari susunan batu yang ditata rapi dalam lingkaran bulat setinggi satu meter atau lebih menyerupai punden berundak-undak.

Susunan batu ini jadi tempat utama persembahan kepada leluhur. Saat melakukan upacara sumpah atau janji adat, tak boleh ada yang melanggar sebab akan berakibat buruk.

Jadi, sebelum melakukan ikrar harus disepakati oleh para kepala adat terlebih dahulu. Bahkan, harus meminum darah sebagai tanda sepakat.

Hal ini dilalukan untuk menjaga perilaku warga yang semakin melupakan budaya leluhur, norma serta budi pekerti yang sudah diwariskan. Misalkan, tak boleh menebang pohon sembarangan, memetik tanaman orang seperti buah pinang dan lainnya.

Dalam upacara ini semua kepala suku di Belu wajib hadir beserta warganya sehingga semua menyaksikan dan mendengar aturan yang disepakati.

Setelah ritual sumpah, tak lupa disaji sesajen di kampung tua yang ada di puncak gunung, serta bergotong royong membersihkan makam yang ada di sekitarnya.

Larangan berupa sumpah ini lebih menekankan pada kepemilikan. Jikalau ingin makan, harus menanam sendiri dan tak boleh mengambil milik orang lain serta merawat dan menjaga alam yang sudah memberi kehidupan.

Pembacaan mantra ini dibacakan oleh sesepuh adat Yakobus Bouk, salah satu ketua suku yang sering ambil bagian dalam tradisi yang masih dilakukan warga di NTT.

Bila ingin berkunjung dan menyaksikan tradisi ini bisa langsung ke lokasi. Jangan lupa mampir ke danau Tiar untuk memancing ikan air tawar, serta bersantai di bukit Kakeu Mantenu sembari menikmati alamnya yang hijau alami.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved