Citizen Reporter

Romantisme Ramayana Ma Chung Rasa Bollywood

kisah Ramayana memang legendaris, namun saat dibesut dalam cita rasa Bollywood, drama mengharu biru pun sanggup mengundang air mata ..

Romantisme Ramayana Ma Chung Rasa Bollywood
yukiko tirzah suhendra/citizen reporter
Drama Ramayana rasa Bollywood ala mahasiswa Universitas Ma Chung Malang 

Reportase Yukiko Tirzah Suhendra
Mahasiswi Universitas Ma Chung Malang

 

INI kali kedua bagi program studi Sastra Inggris di Universitas Ma Chung Malang, khususnya kelas drama, menggelar drama tahunan berbahasa Inggris dengan cerita dari Asia. Tahun 2015, drama yang ditampilkan bernuansa Tiongkok, dan tahun ini bernuansa India, lebih tepatnya Bollywood.

Suasana Jumat (8/12/2017) sore di Lafferie Eatery, Malang, tak seperti biasanya. Drama yang diadakan ini merupakan tugas akhir semester kelas drama bagi mahasiswa semester tiga.

Kelas drama binaan FX Dono Sunardi, dosen sastra Inggris, berkolaborasi dengan Jasmin Samat Simon, staf kantor urusan internasional, yang memiliki pengalaman cukup panjang di bidang teater profesional.

Alih-alih menyajikan kisah asli Ramayana, pementasan kali ini mengadaptasi cerita dan disuguhkan dalam cita rasa Bollywood.

Penggemar film Hollywood mungkin akan teringat Romeo Juliet garapan sutradara Australia Baz Luhrman, tahun 1995, yang membawa kisah abad 16 ke akhir abad 20.

Pementasan berdurasi kurang lebih satu jam ini dikemas secara cantik mulai dari adegan menangis, marah, hingga romantis. Para mahasiswa tak hanya memainkan perannya masing-masing, namun mahasiswa di kelas drama, I Gusti Ngurah Ade Wiraldy S, ikut serta menyutradarai drama ini.

Seperti halnya film Bollywood, pementasan ini juga disertai tarian kolosal India yang dibawakan 19 pemeran berkostum sari India hingga tampilan gagah ala inspektur Vijay berseragam krem.

Uniknya, pementasan yang dipilih adalah sebuah restoran. Menurut Jasmin Samat Simon, kolaborator penting pementasan ini, “kami ingin menyajikan street theater, di mana pemain juga bisa berinteraksi dengan penonton, dan bahkan dengan lingkungan tempat pementasan.”

Benar juga, pementasan di lantai dua itu sesekali ditingkahi bunyi mobil yang menderu melintas di jalan Lembah Dieng, yang terlihat jelas dari lantai dua.

Meskipun para pemain masih duduk di semester tiga jurusan sastra Inggris, adegan-adegan dan dialog yang mereka bawakan mampu menghipnotis  penonton. Bahkan, ada yang menitikkan air mata.

Drama pun di akhiri dengan mengajak beberapa penonton maju ke pentas untuk bersama-sama menari India.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved