Lifestyle

Goresan Keindahan Tanah Air untuk Korban Bencana Pacitan

Derita masyarakat Pacitan akibat tanah longsor dan banjir menimbulkan empati banyak pihak, tak terkecuali Komunitas Perupa Jawa Timur.

Goresan Keindahan Tanah Air untuk Korban Bencana Pacitan
surya/achmad pramudito
Para pelukis anggota Komunitas Perupa Jatim (Koperjati) menggelar aksi melukis di atas piring keramik di markas mereka di Jl Darmokali 14 Surabaya. Hasil penjualan lukisan itu sepenuhnya disumbangkan untuk musibah bencana Pacitan. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Derita masyarakat Pacitan akibat tanah longsor dan banjir menimbulkan empati banyak pihak.

Di antaranya adalah anggota Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati).

Mereka spontan menggelar aksi melukis bersama yang selanjutnya dijual ke para kolektor
karya seni.

“Hasilnya, semua kami sumbangkan buat korban bencana di Pacitan,” tandas Muit
Arsa, Ketua umum Koperjati, Selasa (12/12/2017).

Yang unik, aksi melukis itu tak dilakukan di atas kanvas seperti yang biasa mereka lakukan.
Namun, secara spesial digoreskan di atas piring keramik dengan objek keindahan alam.

“Harapannya, karya kami ini bisa menghiasi ruang tamu di rumah maupun kantor,” imbuh Muit yang sering mengangkat sosok perempuan dalam karya lukisnya.

Menurut Muit, para pelukis yang gabung dalam aksi sosial itu banyak yang menekan egoisme masing-masing demi kebersamaan menghasilkan karya menarik agar cepat laku.

“Intinya adalah cepat laku sehingga kami bisa segera manfaatkan uangnya untuk membantu saudara kita yang sedang kesusahan di (Pacitan) sana,” bebernya.

Seperti Muit Arsa, Sugiharto pun mengaku kali ini dia mengesampingkan kemampuannya
dalam meluis wajah.

“Kami memang sepakat kali ini goresan kami adalah naturalis, menggambarkan keindahan negeri ini dengan harapan menarik perhatian penikmat seni,” cetus
pria asal Bojonegoro ini.

Sedang Andri Setiawan, meski aksi yang dilakukan anggota Koperjati itu spontan, dirinya meyakini karya yang dihasilkan para pelukis itu bukan serta-merta menjadi sebuah wujud pemandangan.

“Masing-masing pelukis pasti punya pengalaman tertentu dalam hidupnya yang kemudian mengendap dalam memorinya. Kenangan yang mengendap itulah yang kini diekspresikan oleh teman-teman sehingga mereka bisa menghasilkan karya dalam waktu singkkat,” kata dosen Seni Murni STKW Surabaya ini.

Kelima pelukis Koperjati,yang terdiri dari Muit Arsa, Sugiharto, Andri Setiawan, Anang Timoer, dan Budi ini memang tak lama menyelesaikan karyanya. Untuk lukisan di sebuah piring keramik yang digoreskan memakai cat acrylic bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 30 menit.

Aksi sosial ini bukan pertama kali dilakukan oleh Koperjati. Di setiap peristiwa tertentu yang memerlukan bantuan banyak lapisan masyarakat mereka akan segera ambil bagian.

“Tanpa diperintah, kami pasti otomatis tergerak untuk melakukan sesuatu. Karena kemampuan kami melukis, itulah yang kami lakukan untuk membantu mereka yang sedang memerlukan pertolongan kita sehingga segera terlepas dari kesusahan,” ungkapnya.

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved