Berita Surabaya

Beri Panggung ABK, Upaya Menumbuhkan Keyakinan atas Kemampuan Diri

Wajah Cindy Octavia sumringah begitu menyelesaikan gerakan Tari Zam-Zam di panggung Auditorium Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya.

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Parmin
surya/achmad pramudito
Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) binaan yayasan Peduli Kasih ABK Surabaya sedang memamerkan kemampuan fashion bersama orangtuanya, Rabu (13/12/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Wajah Cindy Octavia sumringah begitu menyelesaikan gerakan Tari Zam-Zam di panggung Auditorium Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya, Rabu (13/12/2017).

Selama hampir 10 menit murid kelas 4 SDN Klampis Ngasem 1 Surabaya ini memamerkan kemampuan di bidang seni tari.

“Tari ini ciptaan saya sendiri. Karena saya ingin dia punya aktivitas yang membuatnya senang,” kata ibunda Cindy Octavia.

Cindy tak sendiri. Sejumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) binaan Yayasan Peduli Kasih
ABK diberi kesempatan tampil unjuk kebolehan di pentas pagi hari itu.

Ada pula yang memamerkan ketrampilan melenggang bak model bersama ibunda masing-masing.

Mereka mengenakan kain yang juga mereka buat dengan arahan dari Yayasan Peduli Kasih ABK.

“Kami memang punya banyak program untuk memberdayakan kemampuan ABK,” kata
Sawitri Retno Hadiati, Ketua Yayasan Peduli Kasih ABK.

Salah satunya, menurut Sawitri adalah membuat kain bahan baju menggunakan bahan-bahan alami.

“Kainnya yang dipakai beragam, ada katun, sutra, dan juga kaos,” tuturnya.

Sedang pewarnanya memakai bahan yang aman buat anak-anak, seperti pandan, kulit buah mangga, serta daun mangga, dan daun jati.

Sebagai ganti jerih payah kreativitas menghias kain itu pihak yayasan memberi uang sebesar Rp 20 ribu hingga Rp 60 ribu.

“Bergantung tingkat kesulitannya. Dan juga panjang kainnya, ada yang dua meter, 2,5 meter, dan ada pula yang kain selendang,” ungkap wanita yang anak bungsunya juga berkebutuhan khusus ini.

Kain tersebut selanjutnya dipamerkan di acara-acara amal.

“Kami biasanya menggandeng Komunitas Suka Berkain, dengan demikian pasarnya sudah pasti,” imbuh Sawitri yang mantan dosen Psikologi Universitas Airlangga.

Untuk memberdayakan ABK ini, diakui Sawitri justru harus dimulai dari orangtuanya.

Sebab, apa pun niatnya untuk merangkul ABK tetapi jika orangtua tak mengijinkan anaknya keluar rumah juga akan percuma.

Ditekankan Sawitri, orangtua harus punya harapan dan keyakinan bahwa anaknya punya
kelebihan seperti anak normal lainnya.

“Tinggal bagaimana kita mencari kelebihan itu lalu mengembangkannya,” begitu sarannya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved