Opini

Menjadi Guru BK yang Dirindukan Siswa, Mengapa Tidak?

kendati tidak gampang, menjadi guru Bimbingan Konseling bukan berarti tidak susah, kembali ke guru BK apakah mau belajar atau menyerah?

Menjadi Guru BK yang Dirindukan Siswa, Mengapa Tidak?
pixabay.com
ilustrasi 

Bayangkan jika ada sekolah yang mempunyai siswa ribuan dan guru BK hanya tiga orang, mana mungkin semua bisa terlayani? Apakah mereka harus antre untuk sekadar mengeluarkan uneg-unegnya? Bagaimana  dengan siswa yang tidak kebagian waktu? Bagaimana menjaring siswa yang pemalu?  Media elektronik solusinya.

Guru BK harus mampu membuat gebrakan baru, mau dan  selalu berinovasi. Jangan mau kalah dengan siswa, bukan berarti bersaing dengan mereka.

Agar siswa tidak menganggap guru BK kuno dan gaptek. Coba kita belajar, yang paling mudah adalah kita bisa belajar teknologi dari mereka. Gratis lagi. Lumayankan?  Asal kita tidak malu.

Hal lain yang harus dilakukan guru BK yakni menumbuhkan siswa mau datang sendiri ke ruang BK untuk berkonsultasi. Syaratnya ternyata tidak serumit benang ruwet. Guru  dituntut untuk mempunyai wawasan luas. Karena salah satu pendukung keberhasilan konseling adalah guru BK mempunyai berbagai informasi yang terkini. Untuk mendapatkan itu guru BK harus mau belajar dan belajar.

Nah! Kita harus mampu  mengubah paradigma guru BK bukan polisi sekolah menjadi guru BK  yang dirindukan siswanya sehingga profesi guru BK tidak lagi dianggap pekerjaan yang biasa-biasa saja. Namun  sebutan guru bimbingan konseling yang profesional dan bermartabat bukan hanya slogan semata.

Semoga.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved