Breaking News:

Berita Surabaya

Menteri Agama Beritahu Cara ke Guru Agama se Indonesia Agar Tidak Mudah Marah Kepada Murid

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin banyak berpesan cara menjadi guru yang sabar dan jauh dari tindak kekerasan

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Cak Sur
SURYA Online/Pipit Maulidiya
Mentri Agama, Lukman Hakim Saifuddin 

SURYA.co.id | SURABAYA - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, membuka acara Kongres Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) ke-3, di Jatim Expo Surabaya, Sabtu (2/11/2017).

Di hadapan ribuan guru yang hadir menjadi peserta, Lukman banyak berpesan cara menjadi guru yang sabar dan jauh dari tindak kekerasan seperti pemberitaan di media belakangan.

Lukman melafadzakan sebuah hadis yang menurutnya bisa jadi pegangan para guru se Indonesia, khususnya guru agama.

"Ada sebuah hadis yang terkenal di kalangan pesantren, berbunyi Ath-thoriqatu ahammu minal maddah. Wal mudarris ahammu minat thoriqah. Wa ma ahammu minal mudarris. Ruhul mudarris ahammu min mudarris binafsihi, yang berarti setiap guru harus cinta kepada murid-muridnya," katanya di depan hadiri semua, Sabtu (2/12).

Lukman melanjutkan Ath-thoriqatu bermakna cara atau metode itu hakikatnya lebih penting dari materi dan bahan yang disampaikan kepada peserta didik.

"Tapi kemudian langsung disambung dengan kata wal mudarris yang bermakna tapi eksistensi seorang guru jauh lebih penting dari metodologi secanggih apapun. Dan kemudian disambung lagi kata ruhul mudarris yang artinya jiwa, ruh atau yang senang saya artikan 'cinta' seorang guru lebih penting dari eksistensi seorang guru tersebut. Maka selalu tanamkan cinta, cinta dan cinta di hati kita," tegasnya disambut tepuk tangan meriah.

Tondo Wasito, salah satu peserta acara sekaligus guru agama SMK Negeri 3 Bojonegoro membenarkan pesan Lukman. Menurutnya banyak sekali di lapangan guru yang tidak mengajarkan materi dengan hati.

"Kenyataannya memang begitu, kalau gak ada semangat pelajaran tidak akan berjalan baik. Misalnya ada guru sudah dikirim pelatihan ke mana-mana tapi, setelah kembali ke sekolah mereka tidak seperti yang diharapkan. Itu kan sama dengan tidak melakukannya dengan cinta," katanya setuju.

Kesejahteraan Guru Agama
Lukman menuturkan tuntutan menjadi seorang guru, khususnya guru agama memang tidak sebanding dengan kesejahteraan yang di dapat.

Di sebagian daerah yang APBD-nya tidak banyak, pun bisa berdampak pada kesejahteraan guru-guru ini. Kondisi ini membuat sejumlah guru kurang sabar dan menghadapi masalah yang cukup kompleks dalam kehidupannya.

"Sehingga mereka berlaku kasar kepada murid, tentu kami tidak berada di posisi menyalahkan mereka. Masalah kompleks seperti ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu satu, dua hari," tegasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved