Breaking News:

Berita Surabaya

Jumlah Guru Agama Islam Berkompeten Kurang, Siswa Rawan Disusupi Paham Radikal

Jumlah guru Pendidikan Agama Islam di Indonesia masih belum ideal. Akibatnya, siswa rawan diajar oleh orang-orang yang tak kompeten.

surabaya.tribunnews.com/sulvi sofiana
Ketua Panitia Kongres III AGPAI, Mohammad Ghozali 

SURYA.co.id | SURABAYA - Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) akan menggelar kongres ke-3 di Surabaya, pada 1 hingga 3 Desember 2017 mendatang. 

Dalam kongres yang akan dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu, akan dibahas kurangnya jumlah guru Pendidikan Agama Islam di Indonesia. 

Ketua panitia AGPAI, Mohammad Ghozali Dia, menyatakan secara nasional, Indonesia masih kekurangan 21 ribu guru dikarenakan belum ada rekrutmen guru PNS. Hal ini berakibat siswa akan diajar oleh guru tidak kompeten sehingga rawan disusupi paham radikal. 

"Kenapa mendesak harus diisi, karena merupakan pemberi revolusi mental kepada siswa. Agama sangat rawan. Kalau diajarkan orang yang salah takutnya menyesatkan. Kekurangan guru itu membuat banyak kelompok radikal ingin masuk ke sekolah," ujarnya.

Bahasan kedua di kongres itu adalah soal nasab.

Dia mengungkapkan, saat ini masih ada guru PAI yang berada di bawah naungan Kemendikbud. Padahal idealnya, seluruh guru PAI berada di bawah naungan Kemenag. 

"Semua guru haru satu nasab yakni di Kemenag biar jelas. Kalo nasab jelas, maka nasib mereka pun akan jelas," tuturnya.

Yang ketiga, adalah kejelasan terkait kelayakan guru honorer.

Menurutnya perlu ada standarisasi sebab masih banyak yang digaji sedikit. Juga memperjuangkan guru honorer untuk diangkat PNS. Honorer guru agama di Surabaya ada sekitar 10 ribu. Kebanyakan sudah mengajar 10 tahun lebih tapi belum jadi pegawai tetap.

Terakhir adalah memperjuangkan adanya regulasi yang akan melindungi profesi guru. Pada kongres AGPAI ke-3 nantinya juga akan ada deklarasi guru PAI untuk setia kepada NKRI dan menyebar Islam Rahmatan lil Alamin.

Dikatakan pembukaan kongres akan dilakukan di JX Internasional Surabaya dan akan mengundang Presiden Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, dan semua organisasi masyarakat keagamaan baik Islam dan Non-Islam.

"Kami telah mengundang Presiden Jokowi, tapi sampai hari ini masih tarik ulur. Menteri Agama, Dubes Finlandia, Konjen Amerika Serikat, dan semua ormas keagamaan baik Islam dan non-Islam," kata Ghozali.

Dalam kongres yang bertema "Memantabkan Keberagamaan dan Merawat Kebergaman untuk Kejayaan NKRI" itu akan ada beberapa hal yang menjadi agenda yakni membahas program selama 5 tahun, meninjau kembali AD-ART, pemilihan pengurus 2017-2022 dan merekomendasi pendidikan agama Islam di Indonesia baik dari sisi guru regulasi dan lainnya.

"Nantinya akan ada 10 ribu guru yang hadir dari seluruh indonesia pada tanggal 2 Desember. Isu utama yang dibahas adalah kekurangan guru Pendidikan Agama Islam (PAI)," kata guru SDN Gosari Ujung Pangkah, Gresik itu.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved