Kamis, 14 Mei 2026

Berita Surabaya

Ini Rahasia Para Juara Lomba Dendang Kencana Jawa Timur, ternyata Mereka . . .

Pemenang dua kategori yakni kategori TK dan SD diraih TK Santa Clara dan SDK Santo Carolus.

Tayang:
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Parmin
surya/pipit maulidiya
Para pemenang lomba Paduan Suara Dendang Kencana kategori SD foto bersama, Rabu (29/11/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Lomba Paduan Suara Dendang Kencana Jawa Timur 2017 baru saja berakhir.

Pemenang dua kategori yakni kategori TK dan SD diraih TK Santa Clara dan SDK Santo Carolus.

Davis Shon Gaotama, dirigen SDK Santo Carolus mengaku senang bisa menjadi juara. Perjuangannya selama ini bersama teman-teman ternyata tak sia-sia.

Davis mengaku pihak sekolahnya sudah mempersiapkan lomba ini sejak bulan September lalu. Tidak ada persiapan khusus selain latihan setiap hari di sekolah.

"Kami sekolah setiap minggunya lima hari, nah selama empat hari itu latihan terus," kata bocah kelas 5 ini.

Davis mengaku cukup senang dan tak menyangka bisa membawa piala Dendang Kencana untuk sekolah mereka.

Dia berharap bisa mengikuti kompetisi paduan suara lainnya. Sehingga bisa terus tahu kemampuan dan kekurangannya.

"Kalau di Surabaya jarang kompetisi, kami berharap acara ini bisa terus diselenggarakan," kata guru Davis, Theresia Sri Murni menambahkan.

Minimnya Kompetisi
Dendang Kencana menjadi salah satu lomba paduan suara yang ditunggu banyak pihak.

Beberapa di antaranya oleh sekolah yang mempunyai prioritas di bidang seni musik.

Setelah 21 tahun, akhirnya kompetisi yang dinaungi Kompas Gramedia ini kembali terselenggara.

Karena begitu lamanya pula, diakui Yosep Totok Pujianto, Juri Dendang Kencana memengaruhi standart suara yang ditampilkan peserta.

"Sebenarnya semakin sering ada kompetisi seperti ini, akan semakin naik juga standart kualitas bernyanyi para peserta. Karena mereka belajar. Kompetisi seperti ini kan jarang sekali terlebih di Jawa Timur," katanya.

Caecilia Hardiarini, salah satu juri Dendang Kencana mengungkapkan minimnya kompetisi paduan suara juga karena tidak banyak sekolah yang memiliki prioritas di bidang seni musik.

Kebanyakan sekolah mencampur seni musik dalam bidang pelajaran seni budaya, dimana di dalamnya terdapat banyak sekali kesenian.

Misalnya seni rupa, seni melukis, seni musik, dan banyak lainnya.

"Jadi pelajaran seni budaya itu akhirnya melihat gurunya. Kalau gurunya seni rupa berarti banyak pelajaran seni rupa di banding yang lain. Jadi sebaiknya tidak rancu seperti itu. Paling tidak sekolah mewadahi," kata perempuan berambut cepak ini.

Upaya tersebut menurut Caecilia salah satu cara anak-anak suka bermusik dan terpenting bisa menyanyi lagu-lagu seusia mereka.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved