Breaking News:

Lapsus

Kegiatan Pemberdayaan Ekonomi di Eks Dolly Fokus Masyarakat Terdampak

Berbagai kegiatan untuk pemberdayaan ekonomi di kawasan eks Lokalisasi Dolly dan Jarak memang difokuskan untuk warga yang terdampak.

Editor: Parmin
surya/m taufik
Kegiatan pembuatan sandal dan sepatu di eks wisma Barbara Gang Dolly. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Berbagai kegiatan untuk pemberdayaan ekonomi di kawasan eks Lokalisasi Dolly dan Jarak memang difokuskan untuk warga yang terdampak.

Yakni warga yang sebelumnya menggantungkan hidup dari aktivitas di kawasan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu.

Seperti mereka yang sebelumnya bekerja sebagai tukang cuci, penjual pakaian untuk para PSK, calo, dan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan operasional lokalisasi di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya.

“PSK (pekerja seks komersiil)-nya kan hampir semua berasal dari luar kota. Nah, ketika lokalisasi ditutup, mereka sudah pulang ke daerah asalnya masing-masing. Demikian halnya para mucikari, mayoritas juga bukan warga setempat,” ungkap Lurah Putat Jaya, Bambang Hartanto saat ditemui Surya.co.id, pekan lalu.

Karena itulah, menurut Bambang Hartanto, yang menjadi perhatian serius pemerintah di kawasan ini adalah masyarakat terdampak. Mereka terus didorong untuk bisa mandiri dengan tergabung dalam kelompok-kelompok usaha kecil menengah (UKM).

“Awalnya memang sulit untuk mengajak masyarakat agar mau bergabung dengan kelompok-kelompok UKM. Tapi sosialisasi terus digalakkan, pelatihan-pelatihan juga terus digelar untuk mengedukasi warga. Sampai sekarang, banyak yang sudah merasakan dampak positifnya,” urai Bambang.

Hasilnya sekarang ini sudah ada 15 kelompok UKM yang berkembang cukup bagus di kawasan eks Lokalisasi Dolly.

Mulai yang bergerak di bidang pembuatan sepatu, sandal, kerajinan tangan, batik, makanan ringan, dan sebagainya. Jumlah itu terbilang cukup banyak.

Di Kelurahan Putat Jaya secara total ada 40 UKM yang beroperasi.

“Dan perkembangan UKM di kawasan eks lokalisasi cukup bagus. Sekarang ini, sudah banyak orang yang tahu, sehingga langsung datang ke tempat UKM itu untuk memesan atau order barang,” imbuh dia.

Menurut Bambang , pihaknya bersama sejumlah instansi terus memantau perkembangan UKM-UKM di kawasan eks lokalisasi.

Selain pembinaan dan pendampingan, mereka juga difasilitasi dalam beberapa hal. Termasuk masalah pemasaran, kualitas produk, pengepakan, dan
sebagainya.

“Dengan kondisi kelompok-kelompok UKM yang sudah berkembang maju seperti sekarang ini, apa yang dulu banyak dikhawatirkan masyarakat sudah terjawab.
Warga yang terdampak proses penutupan lokalisasi sudah bisa mendapat pekerjaan bagus untuk mencukupi kebutuhannya,” tandasnya. (fla/ufi)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved