Menikmati Thailand dalam Nuansa Baru
Ada Kepala Arca Buddha di Antara Belitan Akar Pohon Bodhi di Wat Mahathat Thailand
sebuah arca yang seluruh badannya telah lenyap oleh waktu dan hanya tersisa kepalanya saja di antara belitan pohon bodhi.
Penulis: Musahadah | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | BANGKOK - Kalau masyarakat Buddha Indonesia memiliki tempat ibadah kebanggaan nan megah seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan di Jawa Tengah.
Thailand memiliki Wat Mahathat, kuil Buddha yang menjadi saksi kebesaran kerajaan Ayutthaya.
Heran. Perasaan itu langsung muncul ketika memasuki area Wat Mahathat yang terletak di pusat Kota Ayutthaya, di antara Jalan Chi Kun dan Jalan Naresuan.
Area ini dipenuhi bangunan candi yang terbuat dari bata merah, laiknya candi-candi di Jawa Timur.
Arsitektur bangunannya relatif ramping tetapi menjulang tinggi, dengan berbagai pahatan yang menghiasi kuil.
Istilah yang sering digunakan untuk mendeskripsikan bentuk menara itu adalah “prang“.
Sejumlah arca Buddha tampak berdiri di antara puing-puing bangunan.
Yang membuat heran, hampir seluruh arca Buddha di sana tidak memiliki kepala.
Suree Pongnopparat, pemandu yang menemani rombongan kami berkeliling area ini mengatakan, kepala arca-arca Buddha ini telah dijarah saat Ayutthaya berperang melawan Birma.
Seperti diketahui, pada tahun 1765 wilayah Ayutthaya diserang dua pasukan besar Birma.
Ayutthaya akhirnya menyerah dan dibumihanguskan pada tahun 1767 setelah pengepungan yang berlarut-larut.
Berbagai kekayaan seni, perpustakaan-perpustakaan berisi kesusastraan, dan tempat-tempat penyimpanan dokumen sejarah Ayutthaya nyaris musnah; dan kota tersebut ditinggalkan dalam keadaan hancur.
Diceritakan Suree, dahulu, ketika peperangan terjadi, banyak terjadi penjarahan.
Awalnya mereka mengambil perhiasan seperti emas yang ada di dalam tubuh arca Buddha.
“Setelah semua perhiasan itu diambil, mereka kebingungan mau mencari apa. Karena arca ini berusia ratusan tahun, akhirnya mereka tertarik dan menjarahnya juga,” terangnya.
Di antara reruntuhan Wat Mahathat terdapat sebuah arca yang seluruh badannya telah lenyap oleh waktu dan hanya tersisa kepalanya saja di antara belitan pohon bodhi.
Merunut dari keterangan yang terpasang di area tersebut, bagian kepala arca Buddha itu terjatuh dari tubuh utamanya ke tanah.
Seiring berjalannya waktu, bagian itu diikat akar pohon Bodhi yang terus tumbuh.
Versi lainnya menceritakan, saat penjarah akan membawa arca tersebut, mereka kesulitan dan menyembunyikannya di pohon bodhi untuk menghindari dari para pengincar harta karun lainnya.
Namun, sang pencuri tetap tidak dapat mengeluarkan arca tersebut keluar kompleks, sehingga terpatri di antara belukar akar pohon.
Kepala arca Buddha ini memiliki struktur wajah yang agak datar dan lebar dengan alis mata tebal dan kelopak mata besar, bibir lurus lebar, dan tepi bibir yang jelas, cerminkan seni periode Ayutthaya tengah, pada pertengahan tahun 1600.
Bagian seni rupa bersama Departemen Kehutanan Thailand merawat pohon bodhi agar tidak menutupi kepala arca buddha.
Pantauan SURYA.co.id, sejumlah wisatawan dari Eropa tampak memenuhi area ini.
Menurut Suree, ada ketentuan bagi wisatawan yang ingin berfoto di dekat kepala arca Buddha ini.
“Mereka harus duduk lebih rendah dari arca ini. Tidak boleh di atasnya. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada sang Buddha,” katanya.
Karena letak arca yang cukup rendah sehingga wisatawan yang berfoto harus terduduk bahkan merunduk.
Selain kepala arca Buddha, puing-puing bekas kerajaan Ayyutthaya yang masih berdiri kokoh juga menjadi spot foto yang sangat menarik.
Untuk memasuki area ini, wisatawan hanya membayar 50 baht.
Tidak sedikit wisatawan yang menggunakan sepeda pancal untuk mengakses lokasi ini.
Hal itu kebanyakan dilakukan mereka yang ingin menelusuri sejumlah kuil di Kota Ayutthaya.
Tidak jauh dari Wat Mahathat, bisa dijumpai kuil yang tak kalah megahnya, Wat Phra Si Sanphet.
Kuil ini didirikan pada masa pemerintahan raja Ramathibodi I (raja U-Thong).
Bangunan penting di kuil ini adalah stupa utama yang berisi abu raja Boroma Tri-Loka-N at, raja Boroma Rachathirat III dan raja Ramathibodi II.
Wat Phra Si Sanphet adalah kuil kerajaan Ayutthaya, yang digunakan untuk upacara kerajaan yang begitu penting serta berfungsi sebagai kapel pribadi keluarga kerajaan dan tempat di mana abu keluarga kerajaan dilestarikan.
Tidak ada biarawan yang tinggal di sini meskipun mereka kadang-kadang diundang untuk upacara tertentu.
Untuk memasuki kuil ini pengunjung cukup membayar 50 baht dan mereka bisa berfoto sepuasnya di bangunan kuil yang menjulang tinggi.
Selesai atau sebelum menikmati dua kuil terbesar di Ayyuthaya ini, wisatawan bisa menikmati kuliner khas Ayutthaya yang tak kalah dengan Bangkok.
Pilihan rombongan kami adalah sebuah rumah makan Tonnam Café di tepi Sungai Chao Phraya.
Di sini pengunjung bisa memilih menikmati makan di dalam kafe atau di atas kapal. Dan pilihan kami menikmati di atas kapal.
Papaya salad, udang sungai, noodle salafd, ayam berbungkus daun pandan dan olahan kepiting menjadi menu makan siang kami.
Udang sungai jumbo dengan saos sambal menjadi menu andalan karena selain rasanya yang segar, harganya ternyata cukup mahal, yakni 400 baht.
Keasyikan menikmati menu khas negeri gajah putih semakin lengkap dengan sensasi goyangan ombak sungai Chao Phraya.
Ditambah pemandangan lalu lalang kapal fery dan kapal barang yang mengangkut hasil pertanian dari Ayutthaya ke Bangkok.
Jalan-jalan ke Wat Mahathat, Wat dan Wat Phra Si Sanphet mengakhiri perjalanan saya di Thailand.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kepala-terbelit_20171125_150520.jpg)