Jumat, 24 April 2026

Berita Malang Raya

Lagi, Rektor Unitri Malang Jelaskan Soal Larangan Bercadar Dua Mahasiswinya, Ternyata Itu. . .

Rektor Universitas Tribuana Tunggadewi (Unitri) Malang kembali menjelaskan soal larangan bercadar dua mahasiswinya. Ternyata itu...

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: Titis Jati Permata
surya/benni indo
Sari Wulandari (kanan) dan Gia Dewi saat mendatangi rektorat Unitri, Sabtu (18/11/2017). Keduanya mengaku dilarang menggunakan cadar. 

SURYA.co.id | MALANG - Konfirmasi mengenai larangan bercadar bagi dua mahasiswi Universitas Tribuana Tunggadewi (Unitri) Malang sudah dilakukan oleh Wakil Rektor 3 dan Kabag Kemahasiswaan kampus tersebut, Sabtu (18/11/2017).

Rektor Unitri, Prof Eko Handayanto MSc PhD, yang sebelumnya berhalangan hadir karena berada di Nusa Tenggara Timur, Senin (20/11/2017), akhirnya memberikan konfirmasi pada awak media.

Eko menegaskan kembali yang telah dijelaskan sebelumnya oleh Wakil Rektor 3, tidak pernah ada peraturan larangan berpakaian dengan cadar bagi mahasiswi.

(Dua Mahasiswi Universitas Tribuwana Tunggadewi Dilarang Pakai Cadar, Bahkan Diancam Dikeluarkan)

"Ini mencuat karena ada satu orang yang menulis rilis berita mengatasnamakan suatu organisasi. Namun anehnya tidak ada stempel dan kop surat resmi organisasi pada surat tersebut," ujarnya saat ditemui awak media.

Rektor Unitri, Prof Eko Handayanto MSc PhD (kanan) bersama humas Unitri, Amanah saat memberi konfirmasi pada awak media tentang larangan bercadar pada mahasiswi, Senin (20/11/2017).
Rektor Unitri, Prof Eko Handayanto MSc PhD (kanan) bersama humas Unitri, Amanah saat memberi konfirmasi pada awak media tentang larangan bercadar pada mahasiswi, Senin (20/11/2017). (surya/neneng uswatun hasanah)

Ia menjelaskan, tidak pernah ada dosen atau pihak manapun yang melarang mahasiswi di Unitri mengenakan cadar.

"Kalaupun ada doaen yang menyarankan, saya rasa hanya untuk keperluan komunikasi. Karena jika bercadar, akan terjadi kesulitan komunikasi terutama saat perwalian," ungkapnya.

(Soal 2 Mahasiswi Dilarang Bercadar di Kampus, Ini Penjelasan Universitas Tribuana Tunggadewi)

Ia juga mengaku pernah mengalami kejadian yang sama saat mengajar seorang mahasiswi bercadar.
"Permintaan saya saat itu adalah agar ia melepas cadar saat berbicara dengan saya. Tanpa ada tendensi apapun, hanya untuk memperlancar komunikasi agar tidak ada kesalahan tangkap," terang dia.

Rektor menjanjikan akan segera bertemu dengan dua mahasiswi (Gia dan Wulan) serta penulis berita rilis, dan ketua program studi yang diduga memaksa Gia dan Wulan untuk menulis pernyataan untuk berperilaku sesuai dengan etika kampus.

"Kami akan segera menyelesaikan ini secara kekeluargaan di internal Unitri saja karena ini hanya masalah kesalahpahaman, dan hanya sekadar masalah komunikasi antara dosen dan mahasiswa," tuturnya.

Diancam Dikeluarkan dari Kampus

Sebelumnya, sua mahasiswi Universitas Tribuwana Tunggadewi Kota Malang mengaku mendapat pelarangan menggunakan cadar.

Keduanya juga mengaku diancam akan dikeluarkan dari kampus jika tidak melepas cadar.

Kedua mahasiswi itu adalah Sari Wulandari (20) dan Giah Dewi (20).

Keduanya adalah mahasiswi Unitri semester 5 dari Fakultas Ekonomi.

Kepada sejumlah awak media, Wulan menerangkan kalau awalnya ia dipanggil oleh Kepala Program Studi (KPS) Akuntansi Fakultas Ekonomi Risna Ningsih sekitar dua minggu yang lalu.

Keduanya kemudian ditanya alasan menggunakan cadar.

Wulan melanjutkan, setelah menanyakan alasan, keduanya diberitahu kalau Risna mendapat teguran dari atasan karena dua mahasiswinya menggunakan cadar.

"Katanya bu Risna mendapat teguran karena kami bercadar," ujarnya, Sabtu (18/11/2017).

Dalam pertemuan itu juga, Wulan dan Dewi disuruh menulis surat pernyataan yang berisi kalau mereka berdua tidak akan menggunakan cadar lagi.

Mereka menulis sendiri surat pernyataan itu disaksikan Risna.

Di bawah desakan itu, keduanya kemudian membubuhkan tanda tangan.

Surat pernyataan itu kemudian diberikan ke pihak jurusan.

"Kami sempat bertanya alasannya. Katanya karena tidak boleh menggunakan cadar, dikhawatirkan akan mempengaruhi mahasiswi lainnya," aku Wulan.

Wulan dan Dewi juga sempat ditanya apakah mereka anggota HTI atau bukan.

Akibat peristiwa itu, keduanya sempat membuka cadar dalam beberapa hari.
Namun sekarang keduanya kembali menggunakan cadar.

Wulan dan Dewi mengaku sudah sekitar enam bulan ini menggunakan cadar.

Namun, kedua dara asal Kalimantan Barat itu baru sekitar sebulan menggunakan cadar di dalam kampus.

Wulan dan Dewi juga mengaku ketakutan dan khawatir jika sampai dikeluarkan dari kampus.

Mereka berharap agar kampus memberikan izin agar mereka tetap bercadar.
Wulan menerangkan kalau dirinya akan patuh terhadap kebijakan kampus.

"Misal aturan kampus melarang, kami tetap akan mengikuti," ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved