Sambang Kampung Simomulyo

Setelah Tahu Hikmah Sedekah Bumi seperti ini, Warga Simomulyo Sepakat Pertahankan Warisan Leluhur

“Patung itu sejak 1960, sebagai wujud warga yang guyub dan sepakat untuk menghargai cerita turun temurun leluhur,” ujarnya.

Setelah Tahu Hikmah Sedekah Bumi seperti ini, Warga Simomulyo Sepakat Pertahankan Warisan Leluhur
surya/achmad zaimul haq
Patung singa menandai salah satu sudut di kampung Simomulyo. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Melintas di kawasan gang-gang di Kelurahan Simomulyo akan terlihat penanda kampung berupa patung singa.

Asal-usul kampung dan patung singa ini tak lepas dari cerita masyarakat tentang adanya makhluk astral kala itu.

Menurut Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) RW 7 Kelurahan Simomulyo, Muhammad Isroni Harianto, tiap harinya makhluk astral itu keluar sebagai wujud dari babat alas kampung.

Untuk mengenangnya, patung singa juga terpasang di gapura pintu masuk RW 7.

“Patung itu sejak 1960, sebagai wujud warga yang guyub dan sepakat untuk menghargai cerita turun temurun leluhur,” ujarnya, Senin (13/11/2017).

Bahkan, ia mengungkapkan, keguyuban warga ini masih terlihat hingga sekarang.
Melalui kegiatan tahunan sedekah bumi, warga bergotong royong menyediakan tumpeng untuk dibagikan pada warga lainnya.

“Itu peringatan bulan suro, kalau dulu kan banyak sawah, jadi habis panen di bagikan. Kalau sekarang simbolis saja pakai tumpeng,” papar Isroni.

Menurutnya, sedekah bumi menjadi bagian dari masyarakat Simo untuk berinteraksi dengan tetangga. Apalagi, tidak semua warga bisa berkumpul rutin tiap hari karena kesibukan.

“Seluruh warga mengeluarkan tumpeng untuk dimakan bersama. Dari sana yang tidak kenal menjadi kenal, karena banyak juga pendatang di Simo,” urainya.

Jaga Budaya
Magdalena, Wakil RW 7 Kelurahan Simomulyo mengungkapkan, keguyuban warga ini juga terlihat di berbagai kegiatan. Mulai PKK, Posyandu hingga kegiatan lansia.

Bahkan, RW-nya terkenal paling cepat merespon jika ada kebijakan dari pemerintah.

“Kalau ada pengumuman kumpul RT, saya cuma kasih tahu lewat grup whatsapp mereka sudah kumpul. Kalau RW lain katanya sulit,” ungkap Magdalena.

Menurutnya, budaya leluhur di kampungnya masih dijaga melalui kegiatan sedekah bumi.

Warga juga terbuka akan kehadiran warga luar kampung yang ingin berziarah ke punden tempat sesepuh kampung.

“Orang sekarang antara percaya tidak percaya. Meski orangnya agamis semua, tetapi ya masih ada kegiatan yang mengingat leluhur. Bahkan tumpengnya saat sedekah bumi sangat banyak,” terangnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved