Sambang Kampung

Berdayakan Warga Hingga Difabel Untuk Jadi Pengrajin Kaca

Di kampung Petemon, Surabaya, banyak usaha kerajinan kaca dan batu ukir. Salah satunya, bahkan melahirkan banyak wirausahawan baru.

Berdayakan Warga Hingga Difabel Untuk Jadi Pengrajin Kaca
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Proses produksi pengecatan kaca ukir di usaha kecil menengah di kawasan Petemon, Senin (6/11). Usaha yang dimulai sejak tahun 1998 itu mempekerjakan difabel pada proses produksinya. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Geliat usaha kecil menegah terus tumbuh di Surabaya, termasuk usaha kerajinan ukir kaca di Kelurahan Petemon, Kecamatan Sawahan.

Usaha yang dimulai sejak 1998 ini sudah banyak melahirkan wirausaha lain di berbagai daerah.

Bagus Heri Setiaji (41), pemilik usaha kerajinan kaca dan batu ukir serta beragam kerajinan lain di kelurahan petemon ini merupakan pionirnya.

Bagus bahkan sudah memberikan pelatihan ke berbagai daerah di Jawa Timur. Usahanya di Petemon Barat nomor 80 bahkan sudah memiliki beberapa pegawai yang merupakan warga sekitarnya. Bahkan ia juga sempat mempekerjakan difabel untuk proses produksinya.

Bagus mengawali usahanya dengan bantuan temannya yang bekerja di tempat produksi kaca ukir milik warga Tionghoa.

“Saat ini pegawai saya disini ada 5, bisa juga 6 tergantung pesanan. Ada 1 difabel juga, kalau pesanan banyak biasanya orderan saya bagi dengan keponakan saya,” ungkapnya.

Tahun 2008, ia mulai berinovasi di batu ukir. Hingga kemudian pada 2009 dia mendapat penghargaan juara 1 tingkat nasional karya inovasi.

Sejak itulah, berbagai kerajinan terus dikembangkan untuk diproduksi di rumahnya.

“Pesanan kaca ukir sekarang selalu ada, karena saya sudah kerjasama dengan pabrik. Kalau produk lain sesuai pesanan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan usaha yang ia tekuni saat ini sangat bermanfaat jika ibu-ibu rumah tangga mau menekuninya. Sehingga, ia pun kerap memberikan pelatihan pada ibu rumah tangga di kampungnya melalui kelurahan.

Hartadi (43), pegawi difabel di CV Bagus Mpu Batu milik Bagus mengungkapkan, ia sudah 2 minggu bekerja di tempat produksi kaca ukir ini. Setiap harinya ia bekerja mempersiapkan kaca, membuat pola dan melukis kaca yang sudah siap diberi warna.

“Saya dulu serabutan bekeja di pabrik rotan, sekarang ikut disini karena saya juga pernah ikut pelatihan di sini tahun 2015,” ungkapnya sambil menyemprotkan cat pada potongan kaca yang ia bawa.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved