Sambang Australia
Adam Brumm, "Indiana Jones" Dari Australia yang Cinta Mati Indonesia
Adam Brumm adalah seorang arkeolog dari Australia. Tetapi perjalanannya ke gua di Maros, membuatnya jatuh cinta pada Indonesia.
Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Eben Haezer Panca
Saya cinta Indonesia.Semakin lama, semakin cinta.Sampai-sampai, rasa cinta itu seakan mengalir ke dalam darah saya.
SURYA.co.id | BRISBANE – Kalimat itu terlontar bukan dari mulut orang Indonesia, tetapi dari Dr Adam Brumm, arkeolog dan peneliti Griffith University, Australia.
Kalimat itu diucapkannya saat menemui Surya dan rombongan International Media Visit (IMV) Surabaya 2017, Jumat (27/10/2017) siang di Brisbane.
Maklum kalau Adam Brumm berkata demikian.Sebab, arkeolog yang menggemari karakter fiksi Indiana Jones inisudah banyak menghabiskan waktunya di Indonesia.
“Saya pertama kali datang ke Indonesia tahun 2003. Setelah itu semakin sering kesana,” kata Adam Brumm yang cukup fasih bercakap-cakap menggunakan Bahasa Indonesia.
Bagi Adam Brumm, Indonesia, khususnya kawasan Indonesia Timur, seakan sudah menjadi rumah kedua. Sebab, dalam sebuah misi penelitian, dia bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan ditemani tim peneliti serta warga lokal.
Sejak pertama kali datang ke Flores di 2003 itu, tiap tahun dia selalu berkunjung ke Indonesia untuk melakukan penelitian. Salah satu penelitiannya bersama peneliti lain yang telah diterbitkan penerbit jurnal Internasional bergengsi, adalah penelitian tentang lukisan gua di Maros, Sulawesi Selatan, yang dibuat sekitar 20 ribu tahun lalu. Penelitian itu berjudul Pleistocene Cave Art from Sulawesi, Indonesia
“Penelitian di situs Leang Bulu Bettue itu masih terus berkembang sampai saat ini. Rencananya, tahun depan setelah Idul Fitri, saya akan melanjutkan kegiatan eksvakasi di sana,” sambungnya.
Bagi Adam Brumm, penelitian dan ekskavasi gua yang dia lakukan di Maros memiliki makna mendalam bagi hubungan Indonesia dengan Australia.
Temuan yang dia peroleh dari bertahun-tahun meneliti, memperkuat kesimpulan bahwa Indonesia di masa lalu memiliki koneksi dengan Australia.
Salah satu contohnya adalah anjing Dingo, anjing khas Australia yang diduganya berasal dari Indonesia saat Australia danbeberapa bagian dari Indonesia, masih menjadi satu benua, BenuaSahul.
“Ekskavasi gua di Maros itu secara tidak langsung bertujuan untuk mengetahui siapa nenek moyang Astronesia. Mungkin saja, masyarakat purba di sana terkait dengan orang-orang yang pertama-tama bermukim di Australia. Dengan memahami hubungan masa lalu itu, saya yakin bisa bermanfaat untuk membangun hubungan di masa depan,” sambungnya.
Butuh Teknologi
Sebagai arkeolog, Adam Brumm melihat bahwa Indonesia adalah salah satu tempat yang sangat luar biasa di dunia untuk mempelajari sejarah peradaban yang mengubah dunia.
Sayangnya, untuk urusan teknologi, Indonesia masih harus terus diperkuat.Sebagai contohnya, di Indonesia, peneliti yang memiliki kemampuan di bidang uranium series dating method atau penanggalan menggunakan uji uranium, sangatlah langka. Begitu pula dengan laboratoriumnya.
Dia menjelaskan, uranium series dating method adalah metode pengukuran umur artefak yang dapat menjangkau hingga maksimal 40 juta tahun. Lebih jauh ketimbang metode pengukuran usia menggunakan teknik uji karbon.
Karena itulah, untuk mengukur usia artefak yang ditemukan di Maros, pria kelahiran 1976 ini dia kerap kali harus meminjam artefak itu dan membawanya ke Australia untuk diuji menggunakan uranium series.
“Di Australia pun tidak banyak laboratorium yang bisa melakukan uji uranium series tersebut. Setahu saya, selain di sini (Griffith University), juga ada di The Queensland University dan Melbourne University. Orang-orang yang spesialis di bidang itu pun juga langka,” tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/adam-brumm-arkeolog-australia-yang-cinta-mati-indonesia_20171106_190048.jpg)