Berita Surabaya

Tuna Rungu Berhasil Jadi Wisudawan di Unipa

Keterbatasan fisik bukan menjadi halangan dalam menempuh pendidikan tinggi, apalagi jika jurusan yang dipilih menjadi passionnya

SURYA Online/Sulvi Sofiana
PROSESI PENGUKUHAN: Hans Ferdinand Pieters (24), wisudwsn tuna rungu Unipa saat prosesi wisuda di Gelora Hasta Brata,Sabtu (4/11/2017).SURYA/ SULVI SOFIANA 

SURYA.co.id | SURABAYA - Keterbatasan fisik bukan menjadi halangan dalam menempuh pendidikan tinggi, apalagi jika jurusan yang dipilih menjadi passionnya. Hal ini yang memotivasi Hans Ferdinand Pieters (24) untuk menyelesaikan studinya di program studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Adi Buana (FKIP Unipa).

Selain menyelesaikan studi tepat waktu, Hans juga telah direkrut perusahaan kosmetik besar di Surabaya sesuai dengan konsentrasi tata rias yang ia tekuni.

“Dari SD sampai SMP saya sekolah di SLB, sejak SMK saya belajar membaur dengan mengambil sekolah reguler jurusan tata rias di SMKN 8,” ungkap warga Peneleh Surabaya ini sebelum prosesi Wisuda Diploma III, Sarjana, Pascasarjana Semester Genap Tahun Akademik 2016/2017 di Gelora Hasta Brata Adi Buana Dukuh Menanggal Surabaya, Sabtu (4/11/2017).

Karena bisa bergaul dengan teman anak normal, ia pun semakin percaya diri menempuh pendidikan tinggi. Sesuai dengan minatnya dalam melukis, Hans mulai menambah ilmu riasnya hingga menjadi Make Up Artis (MUA).

“Nanti pulang wisuda saya juga sudah ada panggilan merias,” ungkapnya melalui bahasa isyarat.

Kaprodi PKK, Agus Ridwan mengungkapkan Hans merupakan sosok yang aktif hingga memenangkan berbagai lomba rias selama kuliah. Hans juga membaur dengan baik bersama teman-temannya. Menurut Agus, Hans sangat didukung keluarganya untuk menuntaskan pendidikannya.

“Ibunya bahkan datang saat sidang skripsi untuk menjadi penerjemah Hans pada penguji,” ungkapnya kagum pada mahasiswanya yang mengambil judul “Tata Rias Karakter Horor Menggunakan Gelatin Dengan Pelembab dan Tanpa Pelembab” ini.

Ridwan mengungkapkan, di fakultasnya memang kerap menerima mahasiswa inklusi bahkan tahun lalu ada tuna rungu yang kini sudah menjadi desainer.

Rektor Unipa Surabaya, Djoko Adi Waludjo membenarkan bahwa kampusnya selalu menerima siswa berkebutuhan khusus bahkan mulai Februari hingga Agustus 2018 kampusnya akan mulai membuka pendaftaran. Calon mahasiswa inklusi bisa mendaftar pada 3 gelombang yang disediakan dan mengikuti tes.

“Pendidikan inklusi memang menjadi perhatian kami, apalagi kami mmmiliki jurusan pendidikan luar biasa” jelasnya.

Terkait wisuda, ia mengungkakan tahun ini Unipa memiliki 1.515 wisudawanyang diwisuda selama 2 hari. Dikatakannya, lulusan Unipa telah siap dengan era perkembangan eksponensial atau percepatan komunikasi seperti saat ini. Menurutnya, selama empat tahun menempuh studi mahasiswa telah dibekali berbagai ilmu pengetahuan dan juga soft skills.

“Inilah yang akan menjadi bekal wisudawan untuk menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya,”ucap Rektor yang gemar Pramuka tersebut.

Menurutnya, penting bagi wisudawan untuk tetap membuat lingkaran akademik atau bangun ikatan alumni dan saling memberi dukungan. Selain itu, Djoko berpesan agar tetap berhati-hati dalam menyikapi hidup, jangan sekali-kali membuat catatan buruk atau investasi kejelekan untuk menghindari poliverasi. Karena, era eksponensial ini dapat dimanfaatkan untuk promosi diri.

“Wisuda bukan purna sebuah studi tetapi terminal untuk mengembangkan dan melejitkan lebih jauh keinginan belajar, artinya harus bangun semangat dan membuat strategi baru bahwa belajar sebagai bagian dari hidup untuk kehidupan,” imbau Djoko.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved