Jumat, 24 April 2026

Sambang Australia

Australia Jorjoran Biayai Riset dan SDM Kelautan

Australia tak main-main dalam mengembangkan potensi kelautan yang mereka miliki. Kualitas dan kuantitas SDM pun terus digenjot.

surabaya.tribunnews.com/eben haezer
Pemandangan kota Sydney dari Udara, Selasa (24/10/2017). Garis Pantai yang panjang menjadikan potensi kelautan Australia sangat tinggi. 

Pemerintah Australia sadar betul, garis pantai yang panjang membuat mereka memiliki potensi kelautan yang fantastis. Tak heran kalau mereka terus mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas SDM di bidang itu.

SURYA |PERTH – Profesor Erika Techera antusias menyambut reporter Surya yang bergabung dalam rombongan peserta International Media Visit (IMV) Surabaya 2017 yang berkunjung ke salah satu fasilitas kampusnya, The University of Western Australia (UWA) Ocean Institute di Crawley, Australia Barat, Selasa (24/10) siang

Dia seakan tak sabar ingin memamerkan penelitian-penelitian yang sedang digarap di pusat penelitian kelautan Samudera Hindia atau The Indian Ocean Marine Research Center (IOMRC) yang baru diresmikan pada awal 2017 silam.

Di UWA Ocean Institute, Techera menduduki jabatan sebagai direktur.

Kepada Surya, Techera mengatakan bahwa fasilitas IOMRC di Crawley diharapkan menjadi pusat penelitian untuk berbagai hal seputar kelautan. Misalnya saja biogeochemistry, hydrodynamics, oceanography, neurobiology, electrophysiology, molecular biology, computer modeling, dan video analysis.

Dengan luasnya bidang-bidang kajian yang diteliti, fasilitas ini dapat menampung ratusan peneliti.

“Fasilitas ini dibangun atas inisiatif bersama antara UWA, Institute Ilmu Kelautan Australia, CSIRO, dan Departemen Perikanan Australia Barat,” ujar Techera.

“Di sini berlangsung penelitian-penelitian yang sifatnya joint ventura untuk kepentingan bersama,” sambungnya.

(Baca: Sambang Australia - Menyusuri Pariwisata dan Kebudayaan Maritim di Fremantle City Australia)

Setelah memberikan sedikit gambaran, dalam kunjungan singkat ini Techera lantas mengajak kami menengok fasilitas NGCF (The National Geotechnical Centrifuge Facility) yang digarap bareng bersama oleh 6 universitas di Australia.

Enam perguruan tinggi itu adalah UWA, the University of Newcastle, the University of Wollongong, the University of Queensland, Monash University, dan The University of Adelaide.

Techera mengklaim, tim peneliti yang tergabung dalam NGCF adalah yang terbesar dalam penelitian seputar geoteknikal lepas pantai (offshore) maupun di pantai (onshore). Hasil-hasil penelitian ini, selain dapat dimanfaatkan untuk kepentingan riset lanjutan, juga banyak dimanfaatkan oleh industri, khususnya industri migas.

“Di sini, kolaborasi tidak hanya antara peneliti dengan peneliti, tetapi juga antara peneliti dengan pelaku industri. Bahkan tidak sedikit peneliti di sini yang kemudian terlibat dalam proyek-proyek yang digarap oleh industry,” tambahnya.

Selain fasilitas NGCF, masih terdapat sejumlah fasilitas lain yang tersedia di sana yang dapat memberikan data kepada negara manapun untuk pengembangan riset dan industri di bidang kelautan.

(Baca: Fremantle Bersolek Menjadi Kota Maritim dan Wisata)

Dilansir dari laman resmi UWA Oceans Institute, seluruh fasilitas tersebut menghabiskan investasi senilai tak kurang dari 62 juta dolar Australia atau tak kurang dari Rp 620 miliar.

“Banyak data yang kami hasilkan yang dapat dimanfaatkan oleh negara manapun termasuk Indonesia. Itu karena kami yakin bahwa laut harus kita kelola dan rawat bersama untuk masyarakat,” pungkasnya.

Pendidikan Vokasi

Pengembangan riset dan SDM di bidang kelautan tak cuma digarap oleh UWA. Misi yang sama juga digarap oleh South Metropolitan TAFE, sebuah lembaga pendidikan vokasi di kawasan Fremantle City. Salah satu studi yang ditawarkan di sana adalah studi Aquaculture.

“Secara sederhana, aquaculture adalah ilmu tentang bagaimana menjadikan produk-produk kelautan seperti perikanan, dapat dikembangkan sehingga ukurannya lebih besar dan lebih bermanfaat untuk konsumsi,” kata Jason Pepperell, Portfolio Manager Maritime South Metropolitan TAFE.

Selain mengandalkan aquaculture, TAFE juga menawarkan fasilitas program studi terkait logistik, wisata kelautan, serta pelayaran.

“Di sini kami memiliki teknologi simulasi untuk pelayaran. Di Australia, teknologi ini cuma ada tiga. Salah satunya milik kami,” ujar Kim Wood, Manager International Strategy TAFE.

Kim kemudian menyodorkan data jumlah mahasiswa Indonesia di kampus tersebut.

Dari data itu dapat di lihat, meski program studi seputar kelautan yang mereka tawarkan sebenarnya sangat penting untuk pengembangan industri kelautan di Indonesia, namun dari 57 mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di sana, hanya satu mahasiswa saja yang mengambil studi marine studies.

Selebihnya, menyebar di berbagai prodi seperti teknologi informasi, pariwisata, lifestyle, art and design, teknik, kesehatan, perhotelan, dan business and management.

“Saya kira Indonesia punya potensi kelautan yang besar. Sehingga, saya kira kampus kami dapat memberikan kontribusi untuk pengembangan SDM-nya,” kata Kim. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved