Citizen Reporter

Ketika Jurnalis Cilik SCB Praktik Wawancara

para jurnalis cilik ini beraksi mewawancarai keluarga sendiri, ada mami juga papi ... "aduuuh ternyata grogi juga ya."

yeti kartikasari/citizen reporter
Jurnalis cilik Sekolah Citra Berkat Pandaan 

Reportase Yeti Kartikasari
Pengajar Jurnalistik di Sekolah Citra Berkat The Taman Dayu, Pandaan, Pasuruan

 

JADI jurnalis butuh keberanian dan rasa percaya diri. Tidak  cukup hanya suka menulis dan berwawasan luas saja, tetapi perlu didukung soft skill komunikasi lisan. Nah, untuk mempersiapkan diri jadi wartawan profesional, peserta ekstrakurikuler jurnalistik Sekolah Citra Berkat (SCB) The Taman Dayu, melakukan praktik mewawancarai narasumber, Kamis (19/10/2017).

Selain guru di sekolah, para peserta juga menginterview orangtua masing-masing. Sebelum melakukan wawancara, peserta dibekali panduan hal apa saja yang bisa ditanyakan.

“Bertanyalah hal-hal yang unik dan spesifik pada narasumber. Supaya nantinya ketika dirangkai menjadi berita, isinya akan kaya dan berbeda,” pesan saya kepada peserta yang rata-rata kelas empat dan lima SD. Agar memudahkan wawancara, daftar pertanyaan dibuat sebanyak mungkin. 

Dengan antusias mereka berburu informasi pada narasumber. Kemudian, menuliskannya ke dalam bentuk features. Setelah selesai, masing-masing anak mempresentasikan dan mendiskusikan hasil liputannya di kelas.

Lintang, siswi kelas empat menuliskan tentang hobi ayahnya menanam tanaman hidroponik. ”Awalnya, melihat tayangan di youtube, kemudian beliau terinspirasi untuk menanam di rumah kami. Hasilnya kini bisa dinikmati sendiri dan sebagian bisa dijual,” cerita Lintang yang berhasil menuliskan hasil wawancara sepanjang satu halaman folio.

Saat sesi diskusi, para peserta antusias menceritakan pengalamannya ketika wawancara narasumber. ”Meski yang saya tanyai Papa sendiri, tapi rasanya nervous,” kata Nicole malu-malu.

Ada peserta yang bertanya, apakah boleh mengomentari apa yang dikenakan narasumber dan menuliskannya, seperti warna baju yang dipakai saat wawancara?

Saya pun tak luput dari serbuan peserta yang ingin mewawancarai. Pertanyaan para jurnalis cilik ini, rata-rata unik, polos dan tidak terpikirkan sebelumnya. ”Mengapa suka ganti-ganti kacamata dengan gagang berwarna selain hitam?”

Sekali dalam sepekan, peserta ekstrakurikuler ini akan mendapatkan materi selama satu jam. Peserta dilatih untuk terampil menulis hard news dan beragam soft news. Ada pula praktik reportase topik-topik tertentu dengan handycam, fotografi jurnalistik,  presentasi dan kunjungan media.

Diharapkan, dengan mengikuti kegiatan ini, para siswa memiliki pemahaman dan menguasai dasar-dasar jurnalistik. Di samping keberanian untuk menyampaikan gagasan baik dengan tulisan maupun lisan.

Filomena Tunjung Sawitri, humas SCB The Taman Dayu mengungkapkan, jurnalis-jurnalis cilik ini akan dilibatkan pada setiap kegiatan sekolah yang membutuhkan peliputan. ”Sebentar lagi sekolah kami menggelar kegiatan tahunan Entreprenuer Week, para wartawan cilik ini akan mendokumentasikan kegiatan melalui tulisan-tulisan dan foto-foto jurnalistik,” terang alumnus Universitas Sanata Darma, Yogyakarta ini.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved