Sambang Kampung
Makam Mbah Karimah Sisi Lain Daya Tarik Kembang Kuning
“Orang-orang berharap bisa mendapat berkah juga dari mbah Karimah , beliau kan mertuanya Sunan Ampel,” ujar Suripto juru kunci makam.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA – Saat mendengar wilayah Kembang Kuning, bagi kebanyakan orang akan terlintas bisnis prorstitusi dan komplek makam kristen yang luas.
Tetapi di kawasan tersebut memiliki sisi religi yang menjadi daya tarik masyarakat sekitar. Saat memasuki kawasan Makam Kristen Kembang Kuning, di sebelah selatan jalan terdapat gang kecil di sekitar pemukiman.
Menyusuri gang menanjak tersebut sejauh 100 meter maka akan menemukan makam mbah Karimah.
Makam yang berdampingan dengan mushola ini menjadi destinasi banyak warga kampung dan luar kampung.
Suripto (71), juru kunci makam mengungkapkan orang kampung baik di sekitar maupun di luar kampung kerap mengadakan tasyakuran di mushola ini.
“Orang-orang berharap bisa mendapat berkah juga dari mbah Karimah , beliau kan mertuanya Sunan Ampel,” ujar Suripto.
Ia pun mengungkapkan banyak mahasiswa maupun pelajar yang datang untuk mengetahui peristiwa sejarah dibalik banyaknya kunjungan ke makam tersebut.
Karena di bawah naungan Yayasan Masjid Rahmat, sejak tahun 1981 telah dibuat ringkasan sejarah makam Mbah Rahmat untuk menghindarkan syirik dan sejarah yang simpang siur.
“Takmir dan sekretaris takmir Masjid Rahmat masa itu bertanya sejarahnya pada sesepuh dan kiai-kiai. Jadi dibuatkan naskah sejarah cerita mbah Karimah ini. Ini yang jadi pegangan saya saat mendampingi pada ziarah yang datang,” ujarnya.
Ramainya para peziarah makam Mbah Karimah, lanjutnya, terjadi saat gelaran haulnya.
Selain itu, ada rombongan peziarah yang aktif satu bulan sekali datang ke makam Mbah Karimah, yakni dari Gresik, Pasuruan, serta Malang Selatan.
Selain dari Jawa Timur, ada rombongan dari luar Jatim yang rutin berziarah sebulan sekali seperti dari Pekalongan (Jawa Tengah) serta Cirebon (Jawa Barat).
Para peziarah ini merupakan rombongan dari Ziarah Walisongo yang sebelumnya mendapat info dari mulut ke mulut atau diberi tahu oleh orang-orang yang sudah pernah berziarah sebelumnya.
Tidak hanya dari dalam negeri saja, dari luar negeri pun juga melakukan ziarah di makam mertua Sunan Ampel ini.
Mulai dari Malaysia, Brunei Darussalam serta Singapura, saat kapal mereka sandar di Tanjung Perak.
Mereka mendapat info dari radio Surabaya kalau ada haul Mbah Karimah, lalu datang untuk ziarah.
“Ada satu warga Malaysia yang sempat memberikan saya uang sebesar 10 Ringgit,” kenangnya.
Surip mengungkapkan Mbah Karimah ini adalah mertua lelaki Sunan Ampel.
Memang nama Karimah merupakan anak perempuan dari Ki Wiroseroyo yang dinikahi Sunan Ampel itu.
“Karena masyarakat itu sudah terbiasa menyebut anaknya terlebih dahulu kemudian diikuti nama ayahnya sebagai panggilan penghormatan, maka yang muncul nama Mbah Karimah Wiroseroyo,” ungkapnya.
Mertua Sunan Ampel bernama Ki Wiroseroyo ini merupakan seorang Prajurit Kerajaan Majapahit yang ditugasi sebagai penjaga batas kerajaan di wilayah Kembang Kuning.
Saat itu sejarah mencatat, awal abad 15, Kota Surabaya bagian selatan masih berupa hutan belantara.
Hal ini bisa ditelusuri jejaknya dengan melihat nama-nama daerah, seperti Wonokromo, Wonosari, serta Wonokitri.
Di Wonokitri inilah tepatnya hutan Kembang Kuning, Ki Wonoseroyo pertama kali bertemu dengan Sunan Ampel yang saat itu masih memakai nama Raden Rahmat.
Abdul Malik, peziarah dari Petemon mengungkapkan makam Mbah Karimah merupakan makam terdekat dengan rumahnya. Sehingga ia sengaja menyempatkan diri mampir untuk ziarah sambil meghabiskan waktu sorenya.
“Di sini enaknya tempatnya kecil dan kalau hari biasa tidak seramai Ampel. Jadi bisa santai berdoa dan membaur dengan wrga disekitar sini,” ujarnya.
Malik, sapaan akrabnya tidak sendiri, sejumlah pezarah juga tampak menghabiskan waktu selepas ashar di area makam mbah Karimah.
Beberapa drai mereka usai mengaji kemudian menghabiskan kopi yang dipesan di area warung sekitar makam.
Sebagian lagi memilih menyapu halaman musala atau sekadar menghabiskan waktu di musala.
Selengkapnya lihat video berikut:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/makam-mbah-karimah_20171023_233226.jpg)