Berita Surabaya

Sutradara Danial Rifki Apresiasi Film Karya Siswa Jatim

Sutradara film Danial Rifki mengapresiasi film karya-karya siswa SMA/SMK Jawa Timur yang mengikuti ajang Festival Sinema Sekolah (FSS)

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
SURYA Online/ Sulvi Sofiana
Sutradara film Danial Rifki usai menyaksikan penganugerahan Festival Sinema Sekolah (FSS) di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (21/10/2017) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sutradara film Danial Rifki mengapresiasi film karya-karya siswa SMA/SMK Jawa Timur yang mengikuti ajang Festival Sinema Sekolah (FSS) Dinas Pendidikan Jatim. Menurutnya film karya siswa termasuk karya lokal yang orisinil. Ke khasan jawa timur terlihat dari latar pengambilan film hinggabahasa yang digunakan.

“Kreatifitasnya mengejutkan sekali. Saya tidak menyangka idenya seasyik itu. Ada anak dirundung, orang tua yang tidak mengizinkan anaknya sekolah, ada pendekatan horor. Bagi saya itu kreatif sekali," kata sutradara peraih Piala Citra tahun 2012 itu usai menyaksikan penganugerahan FSS di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (21/10/2017).

ADU BAKAT - Dua pemenang aktris terbaik Festival Sinema Sekolah (FSS) tingkat SMA dan tingkat SMK saat menunjukkan dialog mereka dalam film yang digarapnya usai menerima hadiah di di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (21/10/2017)
ADU BAKAT - Dua pemenang aktris terbaik Festival Sinema Sekolah (FSS) tingkat SMA dan tingkat SMK saat menunjukkan dialog mereka dalam film yang digarapnya usai menerima hadiah di di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (21/10/2017) (SURYA Online/ Sulvi Sofiana)

Sutradara Film La Tahzan dan Haji Backpacker itu mengatakan, dirinya senang diundang untuk menyaksikan kreatifitas siswa SMA/SMK Jatim. Baginya, tema-tema yang diangkat dalam film karya mereka bagus karena dekat dengan keseharian pelajar. Hal unik juga ia lihat di sejumlah festifal film karya siswa di Aceh. Baginya nilai lokal menjadi kekayaan tersendiri bagi siswa di daerah.

"Ada tema yang dekat sekali dengan mereka. Contohnya film dengan judul Tri Maskentir yang bercerita tentang pendekatan ke cewek dengan menggunakan geometri, kalkulus tapi si cewek anak IPS. Itu dekat dengan mereka. Mereka cukup jujur menyuarakan apa yang dekat dengan mereka," tuturnya.

Dirinya berpesan agar nilai kejujuran dalam membuat film terus dipertahankan. Selain memperbaiki teknis penggarapan film. "Tadi masih banyak film yang suaranya kadang tinggi kadang rendah. Ada videonya yang masih biasa. Tapi keunggulan film maker muda adalah idenya. Spontanitas itu yang membuat film mereka lebih orisinil," tuturnya.

Kepala UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Pendidikan Dindik Jatim, Ema Sumiarti mengatakan pada FSS kali ini diikuti 110 peserta SMA/SMK di Jatim naik 30 peserta dibanding tahun 2016 yang hanya 80.

"Dari 110 itu diseleksi dan akhirnya tinggal 85. Proses pendaftaran hingga seleksi semuanya melalui daring. Dari proses itu diambil 10 nominasi untuk SMA dan 10 untuk SMK," tuturnya.

Dia menjelaskan, syarat utama FSS adalah film haruslah karya asli bukan plagiat atau cuplikan dari film karya lain dan tidak pernah dilombakan di ajang festival mana pun. Secara garis besar FSS 2017 mengambil tema "Generasi Berbudaya". Ema berharap melalui FSS akan tercipta pencipta film andal dari Jatim khususnya dari pelajar.

"Durasi film maksimal 15 menit. Pada proses penggarapan film semuanya harus murni dari siswa," ujarnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved