Laporan Khusus
VIDEO - Uang Elektronik di Gerbang Tol, Lebih Bermanfaat atau Tidak Sih?
Semua pintu tol ditargetkan menggunakan pembayaran non tunai. Sebenarnya, apa manfaatnya bagi masyarakat?
Penulis: M Taufik | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA – Pelaksanaan layanan pembayaran non-tunai di semua pintu tol mulai November mendatang dinilai lebih banyak menghasilkan manfaat dari sisi transportasi. Dengan aturan itu, waktu antrean di pintu tol akan lebih cepat. Tingkat potensi kesalahan nilai pembayaran juga hilang.
Pakar Transportasi Universitas Brawijaya Hendi Bowoputro mengatakan, meski perbandingan selisih waktu antrean pembayaran non-tunai dan tunai di pintu tol hanya sekian detik per mobil, sistem pembayaran non-tunai tetap lebih baik.
“Anda mengeluarkan uang, belum lagi jika ada kembalian. Dibandingkand dengan sekarang tinggal tempel kartu. Perbedaannya bisa sangat signifikan. Sepersekian detik per kendaraan dikalikan jumlah kendaraan (yang lewat pintu tol),” kata Hendi, akhir pekan lalu.
Meski begitu, layanan pembayaran non-tunai di tol hingga yang diterapkan saat ini belum sepenuhnya sempurna. Menurut dia, pihak operator harus menyiapkan sistem untuk menghindari antrean yang justru lebih lama akibat alat rusak. Operator, kata dia, harus menyiapkan alat cadangan agar pengguna jalan tetep terlayani. Perlu juga disediakan petugas yang berjaga di pintu masuk Gerbang Tol Otomatis (GTO) itu.
Hal lain yang perlu diperhatikan operator adalah penyediaan layanan pengisian ulang kartu uang elektronik. Menurut Hendi, fasilitas seperti ini sudah disediakan di beberapa pintu tol. Pintu-pintu tol lain yang belum menyediakan harus mulai meniru. Fasilitas ini penting untuk mengantisipasi adanya pengguna jalan yang lupa atau tak sadar isi uang elektroniknya telah habis.
“Itu memang harus disediakan oleh operator. Harusnya di situ ada dua mesin. Satunya untuk isi ulang. Memang itu kelemahannya pembayaran non-tunai. Saya pernah juga mengalaminya ketika di Jakarta,” ungkapnya.
Hendi juga mengingatkan agar tidak ada monompoli penyediaan layanan uang elektronik. Semua pintu tol, kata dia, harus bisa melayani semua jenis uang elektronik. Minimal, empat atau lima jenis uang elektronik yang paling banyak beredar di pasaran. Hingga saat ini, belum semua pintu tol bisa menerima semua kartu. Hendi pun pernah mengalaminya ketika akan melintas di tol Malang-Pandaan.
“Meskipun nanti bank-bank mengeluarkan kartu uang elektronik baru, (pengelola tol) harus menerima. Bank juga harus bekerja sama jika ingin kartunya laku,” tambahnya.
Selain pengguna jalan, sistem pembayaran non-tunai di tol menguntungkan bagi operator atau pengelola tol. Pihak tersebut, lanjut Hendi, bisa menghemat biaya pengeluaran dengan mengganti sumber daya manusia dengan pembayaran non-tunai.
“Itu kan tinggal sekarang investasi (pengelola). Itu pun tidak terlalu mahal, saya rasa. Jika dibandingkan dia harus menyediakan sumber daya,” pungkasnya.(M Taufik/Aflahul Abidin)