Lapsus

Pengamat Sebut Transaksi Nontunai di Gerbang Tol Lebih Menguntungkan

Dari sisi transportasi, penerapan sistem pembayaran nontunai secara keseluruhan di semua gerbang tol, dinilai sangat bermanfaat. Tetapi...

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Eben Haezer Panca
surya/aflahul abidin
Gerbang Tol Sidoarjo yang hanya melayani kartu elektronik dari beberapa bank saja. Sejauh ini, belum semua kartu elektronik bisa untuk membayar tol di pintu keluar menuju Sidarjo tersebut. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Penerapan sistem pembayaran nontunai 100 persen di semua gerbang tol, dinilai sangat bermanfaat dari sisi transportasi. Dengan aturan itu, waktu antrean di pintu tol akan lebih cepat dan potensi kesalahan nilai pembayaran juga menjadi tidak ada.

Pakar Transportasi Universitas Brawijaya Hendi Bowoputro mengatakan, meski perbandingan selisih waktu antrean pembayaran nontunai dan tunai di pintu tol hanya sekian detik per mobil, namun menurutnYa sistem pembayaran nontunai tetap lebih baik.

“Anda mengeluarkan uang, belum lagi jika ada kembalian. Dibandingkand dengan sekarang tinggal tempel kartu. Perbedaannya bisa sangat signifikan. Sepersekian detik per kendaraan dikalikan jumlah kendaraan (yang lewat pintu tol),” kata Hendi, akhir pekan lalu.

Meski begitu, layanan pembayaran nontunai di tol hingga waktu ditetapkan pemerintah ternyata belum sepenuhnya sempurna. Menurut dia, pihak operator harus menyiapkan sistem untuk menghindari antrean yang justru lebih lama akibat alat rusak.

Operator, kata dia, harus menyiapkan alat cadangan agar pengguna jalan tetap terlayani. Perlu juga disediakan petugas yang berjaga di pintu masuk gerbang tol otomatis (GTO) itu.

Hal lain yang perlu diperhatikan operator adalah penyediaan layanan pengisian ulang kartu uang elektronik. Menurut Hendi, fasilitas seperti ini sudah disediakan di beberapa pintu tol.

Untuk pintu-pintu tol lain yang belum menyediakan harus mulai meniru. Fasilitas ini penting untuk mengantisipasi adanya pengguna jalan yang lupa atau tak sadar isi uang elektroniknya telah habis.

“Itu memang harus disediakan oleh operator. Harusnya di situ ada dua mesin. Satunya untuk isi ulang. Memang itu kelemahannya pembayaran nontunai. Saya pernah juga mengalaminya ketika di Jakarta,” ungkapnya.

Hendi juga mengingatkan agar tidak ada monopoli layanan uang elektronik. Semua pintu tol, kata dia, harus bisa melayani semua jenis uang elektronik. Minimal, empat atau lima jenis uang elektronik yang paling banyak beredar di pasaran. Hingga saat ini, belum semua pintu tol bisa menerima semua kartu. Hendi pun pernah mengalaminya ketika akan melintas di tol Pandaan.

“Meskipun nanti bank-bank mengeluarkan kartu uang elektronik baru, (pengelola tol) harus menerima. Bank juga harus bekerja sama jika ingin kartunya laku,” tambahnya.

Selain pengguna jalan, sistem pembayaran nontunai di tol menguntungkan bagi operator atau pengelola tol. Pihak tersebut, lanjut Hendi, bisa menghemat biaya pengeluaran dengan mengganti sumber daya manusia dengan pembayaran nontunai.

“Itu kan tinggal sekarang investasi (pengelola). Itu pun tidak terlalu mahal, saya rasa. Jika dibandingkan dia harus menyediakan sumber daya.” pungkasnya. (Aflahul Abidin/M Taufik)

(Baca: BI Minta Perbankan Siapkan 200.000 Kartu E-Toll di Jatim)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved