Berita Surabaya
Manfaatkan Lahan Tidur, Kampung Perak Utara Raih Juara Lomba Taman Herbal Bejo
Tekad mereka mengelola taman herbal dan berkembang mereka mampu menyabet juara satu Lomba Herbal Bejo 2016-2017.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | SURABAYA - Warga kampung RT 6 RW 5 Kelurahan Perak Utara patut mendapatkan apresiasi.
Pasalnya berkat tekad mereka mengelola taman herbal dan berkembang mereka mampu menyabet juara satu Lomba Herbal Bejo 2016-2017.
Warga kampung ini pun menyambut gembira dan mengaku tak menyangka bisa menyabet hadiah sebesar Rp 15 juta dalam awarding yang digelar di Taman Surya, Sabtu (30/9/2017).
Sebab mereka mengaku hanya peserta pemula.
Ketua Tamab Herbal RT 6, Tati Hapri, mengaku tak menyangka bisa menang.
Terlebih mereka terbilang pemula untuk melakukan budidaya pertanian tanaman herbal temu putih.
"Di kampung kami, mulanya ada 190 meter persegi lahan kosong di tengah kampung. Daripada sayang tidak dimanfaatkan, akhirnya kami sepakat untuk mengelola tanah itu jadi taman," ucap Tati pada Surya, usai menerima awarding.
Taman itu dijadikan taman toga. Ada sebanyak 87 jenis tanaman toga yang sengaja ditanam di sana.
Mulai jahe merah, temu putih, kencur, jahe, kunyit, laos, dan segala jenis tanaman mengandung obat.
Setiap ada warga yang butuh obat-obatan herbal, mereka tingga mengambil ke taman toga dan memanfaatkannya.
Begitu juga bagi warga yang punya usaha membuat tanaman toga, mereka bebas menggunakan tanaman yang ada untuk modal usaha.
"Lalu kami ditawari untuk ikut lomba. Awalnya coba-coba deh, ikut. Tapi kami tidak setengah-setengah, awalnya diberi 30 polibag temu putih, kami tambah 23 polibag lagi temu putih," ucap Tati.
Sehingga taman mereka hampir full dengan tanaman temu putih dan rimbun.
Dengan koordinasi yang baik antar warga dalam merawat tanaman yang ada, tanaman temu putih yang mereka budidayakan berkembang subur dan sehat.
"Kami ada sistem shift piket merawat, jadi bergantian. Tidak hanya satu orang yang kerja," imbuhnya.
Kendala utama dalam mengembangkan budi daya ini adalah masalah air untuk pengairan tanaman.
Mulanya tanaman disiram dengan air dari warga depan taman.
Namun lantaran lama-kelamaan tidak enak lantaran biaya airnya akan menjadi beban warga, maka mereka urunan untuk membuat sumur pengairan.
"Kami sudah sempat panen. Sebagian memang akan dibeli oleh juri lomba, dan sebagian yang lain kami bagi ke seluruh RT untuk ditanam kembali di depan rumah," kata Tati.
Sehingga setiap rumah di kampung ini memiliki tanaman toga temu putih.
Agar bisa digunakan bahan obat, toh manfaat temu putih ini sangat besar.
Bisa mengobati kanker jika dikonsumsi secara rutin.
Usai semua warga punya tanaman temu putih, warga kampung ini menargetkan langkah selanjutnya adalah berupaya untuk membuat ekstrak tanaman temu putihnya.
"Dari taman toga ini alhamdulillah banyak yang merasakan manfaat. Usaha herbal seperti membuat jamu dan juga olahan manisan cerme juga berhasil didapatkan dari taman ini," kata Tati.
Uang Rp 15 juta yang didapatkan dikatakan Tati tidak akan dibagi rata ke warga.
Melainkan digunakan untuk pengembangan budidaya tanaman Toga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/bejo3_20170930_155452.jpg)