Rabu, 10 Juni 2026

Berita Surabaya

Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Digelar di Dua Kota, ternyata ini Tujuannya

“Potensi-potensi daerah wisata bisa dikunjungi oleh anak-anak sebagai wisata edukasi. Jadi bisa mengenal seluruh Nusantara."

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
surya/sulvi sofiana
Peserta FLS2N saat mengikuti pembukaan di Hotel Garden Palace, Senin (25/9/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun ini digelar di dua kota terpisah untuk pertama kali. Bagi jenjang SD, SMP, dan Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) dipusatkan di Kota Surabaya, Jatim. Sementara jenjang pendidikan menengah SMA/SMK diselenggarakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Kemendikbud, Wowon Widaryat mengatakan, penyelenggaraan FLS2N baru kali ini terpisah. Hal ini untuk memberi kesempatan daerah-daerah bisa menyelenggarakan FLS2N. Tahun depan mungkin daerah-daerah yang belum pernah menjadi tuan rumah akan diberi kesempatan.

“Potensi-potensi daerah wisata bisa dikunjungi oleh anak-anak sebagai wisata edukasi. Jadi bisa mengenal seluruh Nusantara ini, bisa mengenal budaya-budaya daerah. Jadi, baru kali ini penyelenggaraannya dibagi dua daerah,” ungkapnya usai membuka FLS2N di Surabaya, Senin (25/9/2017).

Dikatakannya, ada empat bidang lomba yang diikuti 370an siswa SD. Antara lain lomba baca puisi, lomba menyanyi tunggal, lomba pantomim, dan lomba seni tari. Seluruh peserta merupakan hasil seleksi tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. “Jadi asalnya per sekolah per kecamatan. Kemudian dijaring tingkat kabupaten/kota, kemudian dijaring tingkat provinsi,” ujarnya.

Wowon mengungkapkan, siswa ini merupakan yang terbaik yang mewakili 26 juta siswa di seluruh Indonesia. “Ini betul-betul anak-anak terbaik, makanya untuk ikut kompetisi nasional ini setiap anak akan mendapat beasiswa pendidikan sebesar Rp 2,5 juta,” terangnya.

Dengan begitu, diharapkan dari anak-anak yang memiliki bakat bidang seni ini, ke depan bisa berprestasi lagi. Karena tingkat SD ini tingkat dasar, sehingga bisa berkembang di tingkat SMP maupun SMA hingga masyarakat.

“Itu seiring dengan program pemerintah untuk memunculkan anak-anak berbakat di tingkat sekolah melalui ekstrakurikuler. Total peserta SD 370 an. Digabung seluruh jenjang memang ribuan,” tuturnya.

Dia menyebut bakat seni di tiap-tiap daerah bisa muncul, dan lomba-lomba ini diikuti seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Artinya, minat seni itu merata secara nasional. Hanya dua provinsi yang absen karena masalah persiapan. “Tahun ini sebenarnya transisi berakhirnya pengelolaan SD dan SMP dari tangan provinsi,” ungkapnya.

Atas kondisi itu, ada beberapa provinsi yang kurang siap mengoordinir kabupaten/kota di daerahnya karena masalah pembiayaan. Jadi, ada beberapa lomba yang tidak mereka ikuti. Ke depan pihaknya akan membiayai dan juga fasilitasi. “Diharapkan kabupaten/kota dan provinsi tetap menganggarkan untuk pembinaan. Tetapi untuk penyelenggaraan tingkat nasional itu dari pusat,” jelasnya.

La Iti, guru kelas 6 SD 3 Napano Kusambi, Sulawesi Tenggara mengungkapkan menemani anak didiknya yanga akn mengikuti lomba puisi. Jika di tambah dengan keseluruhan siswa Sultra, untuk tingkat SD terdapat 7 anak yang mengikuti kompetisi.

“Kalau puisi yang dibawakan Nyanyian Kemerdekaan, karya Ahmadun Yosi Hervanda. Latihannya baca puisi menghayati semangat perjuangannya, grogi juga ini karen ajauh dari rumah,” ungkapnya

Sementara Rusky Amelia, siswa kelas 6 SDN 3 Pematang Panjang tampak memakai baju adat dayak. Ia mengungkapkan akan menari tari dayak dalam lomba tingkat nasional ini. Ia dan 2 temannya bahkan sudah rutin latihan sejak kelas 5.

“Kami juga penasaran tarian daerah lain, ingin sekali lihat tarian dari bali,”ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved