Breaking News:

Berita Inovasi

Musik Gamelan untuk Terapi Anak Berkebutuhan Khusus- Sri Asih Pilih Gamelan Bali karena Alasan ini

“Anak berkebutuhan khusus itu kalau mendengar musik dengan ketukan yang jelas, maka telinganya akan lebih peka," tanda Yani.

surya/habibur rohman
TERAPI GAMELAN - Sri Asih Andayani menunjukkan beberapa perlengkapan terapi musik gamelan di Kampus Untag Surabaya, Rabu (6/9/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Musik sering digunakan sebagai media dalam memberikan terapi psikologi. Musik klasik menjadi salah satu musik palinh dominan untuk menenangkan psikologis seseorang.

Melihat hal ini, mahasiswa magister Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), Sri Asih Andayani (40) mencoba berinovasi dengan mencari musik klasik khas Indonesia untuk media konseling.

Ia pun memilih gamelan sebagai musik tradisional untuk terapi pada psikologi anak berkebutuana khusus saat berada pada kondisi tantrum.

Tantrum pada anak berkebutuhan khusus di usia 2 hingga 11 tahun merupakan tantrum tersulit.
Sebab, pada usia ini, anak belum bisa berkomunikasi dengan baik untuk mengatasi emosi meluap yang dialami.

“Anak kecil usia 2 sampai 11 tahun memang biasa tantrum, tapi gampang ditenangkan dengan bujukan tetapi anak berkebutuham khusus tantrumnya lebih lama karena komunikasi belum paham sepenuhnya,”ujarnya usai mengikuti yudisium di kampusnya, Rabu (6/9/2017).

Dikatakannya, ada berbagai jenis gamelam di Indonesia. Ia memulai riset musik gamelan dengan mencari berbagai compact disk di pasaran yang berisi musik gamelan.

Pilihannya kemudian jatuh pada gamelan bali yang memiliki ketukan berirama lebih lugas dibandingkan musik gamelan jawa.

“Anak berkebutuhan khusus itu kalau mendengar musik dengan ketukan yang jelas, maka telinganya akan lebih peka. Kemudian getaran pada telinga bisa membantu membuat peka saraf otak mereka,”jelas wanita kelahiran Surabaya, 8 Juni 1977 ini.

Ia pun melakukan penelitian pada 12 anak berkebutuhan khusus, mulai dari down syndrom, gangguan pendengaran dan bicara, autis hingga terlambat bicara.

Melalui 15 indikator, ia mencoba menerapkam kebiasaan mendengarkan musik tersebut hingga 23 kali.

“Latihannya terus membiasakan mereka, hasilnya dari banyak indikator seperti tindakan agresif, melalui verbal, nonverbal, ada juga yang membanting barang mulai berkurang. Minim mereka hanya menangis saat tantrum,” ungkapnya wanita yang meraih indeks prestasi 3,81 ini.

Karyanya juga mendapat dukungan penuh dari guru besar Psikologi Untag, prof M As'ad Djalali.
Ketertarikan prof As’ad pada budaya Indonesia bahkan memberikan beberapa literatur tambahan terhadap wanita yang akrab disapa Yani.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved