Minggu, 12 April 2026

Single Focus

Incaran Pegawai yang Malas Keluar Kantor, Cafe pun Pakai Layanan Pesan Antar Online

pebisnis pemula juga bisa memanfaatkan jasa layanan pesan antar di mobile phone yang sudah ada. Salah satunya Go-Food.

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/Ahmad Zaimul Haq
Stiker aplikasi GoFood ditempel di salah satu restoran di Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ikut terjun memanfaatkan teknologi aplikasi untuk menunjang bisnis tidak hanya dengan membuat aplikasi khusus. Bagi pebisnis pemula juga bisa memanfaatkan jasa layanan pesan antar di mobile phone yang sudah ada. Salah satunya Go-Food.

Peluang itu turut dimanfaatkan Pramuki Yunita Basuki, owner Bioscoop Coffee and Delights. Cafe di bilangan Jl Klampis ini sudah bekerja sama dengan Go-Food, jasa layanan antar makanan.
Menurutnya, join bisnis dengan konsep sharing lebih menguntungkan dan murah dibandingkan membuat aplikasi sendiri untuk cafenya.

"Bisnis kfae kami sudah jalan setahun, delapan bulan belakangan kerjasama dengan Go Food. Kami berpikir jika buat aplikasi sendiri tidak murah, belum biaya khusus untuk kurir, lebih praktis," kata wanita yang akrab disapa Ukie, Senin (4/9).

Ia menyebut dengan kerjasama itu, mereka sama-sama diuntungkan. Bagi cafenya, ia bisa menjangkau market lebih luas.

Selama ini, Ukie mengungkapkan, cafenya lebih disasar untuk anak-anak muda dan mahasiswa. Tetapi, dengan layanan pesan antar lewat aplikasi Go Food, pasarnya mengarah ke pelanggan kantoran.

"Saat siang kami banyak dapat orderan via Go Food. Sebab kadang banyak pegawai yang malas keluar, terutama akhir bulan, karena kerjaan numpuk," ulas Ukie.

Lebih Mahal

Peluang itulah yang bisa terjangkau dengan gabung dengan Go Food. Ia menyebut, memang ada pengaruh pada penjualan cafe sejak kerjasama dengan layanan pesan antar lewat aplikasi mobile. Bahkan, sampai 20 persen.

Akan tetapi, konsekuensi harga makanan lebih mahal. Sebab dengan kerjasama itu, ada sistem bagi hasil 20 persen dengan Go Food.

Menyiasati agar makanan tidak terlalu mahal bagi konsumen, Ukie tidak menaikkan harga makanan hingga 20 persen melainkan hanya 10 persen saja.

"Karena kasihan juga pelanggan kalau harga terlalu banyak dinaikkan, nanti berpikirnya makanannya mahal," paparnya.

Menurut Ukie, dibandingkan harus keluar, jarak jauh dan keluar transpor, banyak pelanggan lebih memilih pesan online dengan membayar tambahan biaya tidak banyak.

Untuk menu yang paling laris di kafenya adalah nasi goreng dewata dan ayam katsu sambal matah. "Jenis makanan yang banyak diorder untuk online memang menu yang cocok untuk take away," imbuhnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved