Breaking News:

Single Focus

Angkat Konsep Nasi Madura Express, Sajikan Masakan Pedas Selera Orang Surabaya

Berbisnis kuliner bukan hal yang mudah, apalagi persaingan makin ketat. Lalu bagaimana tips suksesnya? Ini tips dari founder Nasi Madura Express

surabaya.tribunnews.com/Habibur Rohman
Nasi Madura Express yang disajikan di Pujasera Makmu Surabaya 

SURYA.co.id | SURABAYA – Nadia Haninda (36) terus berinovasi agar bisnis kulinernya menarik banyak pengunjung. Ia tak sekadar mengganti resep masakan saja, tapi juga menyajikan secara higienis untuk menunjukkan nuansa makanan eksklusif.

Nadia melekatkan kulinernya dengan brand ‘Nasi Madura Express’. Ia tak sendiri membangun bisnis kulinernya. Ada suaminya Dviyottama Dewamurti dan dua temannya, M Monif Salim serta Lucky Anggriani yang selalu mendampingi.

Nadia sudah menjalani usaha kuliner itu dua tahun ini. Awalnya, ia hanya mencari kesibukan selain pekerjaan sehari-hari. Sang suami yang suka masak dan bekerja di sebuah hotel membuatnya berkeinginan kuat membuka usaha kuliner.

“Eh saat saya nyoba bikin masakan, ternyata banyak yang suka,” tutur ibu tiga anak ini.

(Baca: Mengintip Praktik Bisnis Pujasera Kekinian)

Wanita yang sempat menjadi tutor di tempat les bahasa ini kemudian menggandeng temannya untuk membuka usaha kuliner. Awalnya, mereka membuka depot di area ruko Babatan Wiyung, Surabaya.

Di sana, ia menawarkan kosep makanan express menu siang dan malam hari kepada pelanggan. Pada siang hari menyajikan masakan khas Jawa-Madura, sedangkan malam hari menyajikan masakan Tiongkok.

“Sudah setahun masih juga sepi, kemudian kami gabung di eatery, tepatnya di Makmu ini, tapi kami diminta punya produk unggulan,” ujar Nadia saat ditemui Surya di Makmu Eatery pekan lalu.

Karena harus menunjukkan produk unggulan, akhirnya Nadia pun mengajukan masakan nasi madura. Nama madura dalam masakan itu bukan karena Nadia berasal dari pulau di seberang Surabaya itu.

“Padahal cuma suami teman saya yang dari madura,” ujarnya.

Baginya, konsep express bukan sekadar brand. Tetapi, ia menerapkan pula dalam pelayanan. Bahan makanan yang siap makan telah dibekukan usai di produksi. Esoknya, pegawai tinggal memanasinya.

“Tempat produksinya ada dua, teman saya masak cumi dan empal. Beli sore, magrib masak. Kalau dapur kedua di (Jalan) Darmo, saya masak kikil dan lauk jeroan,” ungkapnya.

Bagi Nadia, nasi madura merupakan makanan alternatif karena bisa diterima lidah warga Surabaya yang hobi makan makanan pedas. Ia pun menyajikan menu kulinernya itu dengan rapi.

Nadia meletakkan lauknya secara rapi di pinggir nasi. Pembeli bisa menambah lauk lain agar lebih bervariasi.

“Nasi madura kadang kesannya jorok, makanya kami ubah penyajiannya agar instagramable juga,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved