Single Focus

OSN Tingkat SMA- Meski Gagal, Orangtua Terus Motivasi agar Anak Tak Berkecil Hati

"Orang tua pasti menginginkan anak meraih prestasi terbaik. Saya hanya bisa memberi dorongan dan arahan saja, kalau teknis biar anak yang menjalani."

OSN Tingkat SMA- Meski Gagal, Orangtua Terus Motivasi agar Anak Tak Berkecil Hati
surya/sulvi sofiana
Sejumlah guru terlihat aktif membina para peserta OSN. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Arif Saiful tidak menyangka anaknya yang kini duduk di kelas XI di SMAN 6 Surabaya, memilki potensi di bidang metematika. Anaknya pernah ikut Olimpiade Sain Nasional (OSN) tingkat Jawa Timur 2015.

Sebagai orang tua, Arif selalu memberi motivasi kepada anaknya. Dengan mengingatkan, supaya giat belajar agar kemampuannya terus terasah dan berkembang.

"Orang tua pasti menginginkan anak meraih prestasi terbaik. Saya hanya bisa memberi dorongan dan arahan saja, kalau teknis biar anak yang menjalani," ujar Arif.

Pria karyawan swasta di Surabaya ini mengakui, saat kali pertama ikut OSN, anaknya gagal menembus tingkat nasional. Namun, bisa ikut ambil bagian di tingkat Jawa Timur sudah memuaskan.

"Terus belajar, kalau ada kesempatan ikut, berharap bisa lebih baik. Saya berusaha memotivasi terus, jangan sampai down," ucap Arif.

Ia merasa bangga anaknya bisa mencicipi dan ambil bagian di olimpiade, kendati masih belum meraih prestasi tingkat nasional.

"Kesempatan dan waktu masih ada, kami menyarankan anak terus belajar dengan les tambahan," cetusnya.

Sering Komunikasi
Pernyataan senada juga dilontarkan wali murid lainnya, Suherman. Ia selalu memberi dorongan kepada anaknya yang punya kemampuan menonjol di mata pelajaran matematika sejak SD dan kini duduk di kelas X.

Ia berharap, jika ada olimpiade tingkat SMA, anaknya bisa ikut seleksi dan bisa lolos ke tingkat berikutnya.

"Kebetulan anak saya punya semangat tinggi. Jadi, kami tinggal mengarahkan saja. Dia kerap komunikasi dengan guru mata pelajaran di sekolah," ucap Suherman.

Selain belajar reguler di sekolah, lanjut dia, anaknya juga ikut les tambahan. Dengan harapan bisa meningkatkan kemampuannya.

"Kebetulan nilai matematika anak saya sejak SD cukup bagus dibanding (pelajaran) lainnya," ujarnya.

Selain belajar secara rajin, Suherman dan istri juga tidak kaku memberi kebebasan kepada anak. Terpenting, saat belajar bisa maksimal dan fokus.

"Komunikasi dengan guru dan sekolah harus sering, ini untuk memantau anak," bebernya.

Penulis: Fatkhul Alami
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved