Kisah Penjual Sayur Naik Haji. Tiap Hari Tabung Uang di Pintu Rumah Tanpa Sepengetahuan Istri

Tanpa sepengetahuan istrinya, tiap hari Rudianto menyimpan uang ke celah kecil di pintu rumahnya. Uang itu ternyata dipakainya untuk ibadah haji..

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/Nuraini Faiq
Rudianto Wari Tondiran (38) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Rudianto Wari Tondiran, pria 38 tahun dari Kecamatan Sukun, Kota Malang, tak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya, saat memasuki areal Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Rabu (9/8/2017).

Bagi Calon Jemaah Haji yang tergabung dengan kloter 40 ini, hari itu adalah hari yang sangat ditunggu setelah selama belasan tahun rajin menyisihkan uangnya dari hasil berjualan sayur keliling.

Ditemui Surya, Rudianto pun bercerita soal upayanya untuk bisa menunaikan salah satu Rukun Islam tersebut. Dikatakannya, setiap hari selalu menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Menariknya, tempat dia menabung adalah di pintu rumahnya yang terbuat dari triplek. 

"Saya Nabung di dalam pintu triplek rumah. Di Pintu tengah sejak saya pertama menikah," kata Rudianto saat ditemui di Asrama Haji Sukolilo. Sambil menunduk, dia tampak terharu karena teringat istri dua anaknya.

Suami Sriyani ini mengaku semua berkah dari perjuangannya gemar menabung. Juga perjuangan uletnya bangun dini hari untuk kulakan sayur. Setelah habis salat Subuh, Rudianto berkeliling dari kampung ke kampung untuk menjual sayurnya. 

Dia mengatakan, penghasilannya dari berjualan sayur tak menentu. 

Namun setiap hari, penghasilan kotor selalu tidak kurang dari Rp 500.000.

Selain untuk modal kulak sayur dan ditabung, uang itu juga dipakai untuk keperluan sehar-hari.

"Tiap hari selalu saya sisihkan barang Rp 10.000. Kalau pas ramai bisa Rp 20.000. Pintu triplek saya Lubangi dan masukkan uang saban hari," ucap Rudianto.

Begitu menikah pada 2001, Rudianto yang pernah jualan gorengan menyisihkan hasil jualan sayur keliling. Namun sebisa mungkin tanpa sepengetahuan istrinya.

"Kalau tahu bisa diambili uangnya. Atau pasti tak diizinkan saya Nyelengi tiap hari nang jero pintu," kata Rudianto.

Setelah 15 tahun menabung, dibongkar hasilnya sebanyak 15 juta terkumpul. Dengan bekal uang recehan ini, Rudianto pergi ke bank. Namun diberi tahu kalau mendaftar haji setoran awal minimal Rp 20 juta.

"Untung saya ada tambahan uang Rp 5 juta. Saat itulah, istri baru tahu dan mendukung," kenang Rudianto.

Kini dia akan mendoakan khusus untuk keluarga dan saudara-saudaranya. Termasuk istrinya didokan agar bisa menyusul dirinya. 

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved