Senin, 20 April 2026

Sambang Kampung

Lewat Manfaat Buah Bogem, Soni Edukasi Warga Pesisir akan Pentingnya Tanaman Mangrove

Hingga kegiatan Soni bersama teman-temannya menarik perhatian Dinas Pertanian untuk menggalakkan penanaman pohon mangrove.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
surya/achmad zaimul haq
Warga menuangkan sirup Bogem ke dalam botol.Sirup ini berbahan buah mangrove yang banyak ditanam di pesisir kampung Wonorejo. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Menjalani kehidupan di wilayah pesisir sejak 1996, tepatnya di kawasan Wonorejo, Rungkut membuat Soni Mohson menjadi aktif memperhatikan lingkungan.

Awalnya, ia membayangkan kawasan pesisir Wonorejo layaknya pantai Kenjeran yang terbilang bersih. Sayangnya, ketika ia mengunjungi kawasan mangrove Wonorejo, ia melihat banyaknya sampah menyangkut.

Ia pun memulai pendekatan dengan warga pesisir pada 1998 untuk mulai membersihkan mangrove dan belajar menanam.

Hingga kegiatan Soni bersama teman-temannya menarik perhatian Dinas Pertanian untuk menggalakkan penanaman pohon mangrove. Dengan ongkos Rp 100 untuk tiap mangrove yang ditanam. Sayangnya, upah yang kecil itu tidak menarik antusias warga.

“Ada 360.000 bibit mangrove yang diberikan pada kami dan harus kami tanam di pesisir Surabaya. Untuk menarik minat masyarakat dalam menanamnya saya menjanjikan Rp 50.000 jika satu kapal nelayan mau mengangkut dan menanamnya,” ungkap kakek 4 cucu ini.

Dengan mengubah manajemen upah dalam penanaman ini, Sony juga harus menjual motor dan mencari pinjaman. Lantaran dana yang dijanjikan belum kunjung diterima. Namun, saat dana itu diterima, Sony bahkan membeli kapal bekas untuk reward warga yang telah membantunya.

“Ya awalnya mereka tidak percaya, tapi ya saya kasih. Karena nanam mangrove itu susah, harus nunggu surut pas jam 6 malam,” terangnya.

Kepeduliannya pada lingkungan mangrove telah membuatnya banyak mengikuti pelatihan dan menambah pengetahuan tentang mangrove. Hingga ia bisa mengenali lahan yang cocok untuk tanaman mangrove.
Bahkan ia menemukan olahan dari buah bogem yang merupakan buah dari salah satu tanaman di hutan mangrove.

“Awalnya hanya iseng duduk bersantai habis nanam mangrove sama teman-teman. Terus ada yang ngambil buah bogem di makan tapi terus di buang katanya asem sekali,” lanjutnya.

Melihat buah bogem yang memiliki aroma harum, Soni berinisiatf mengolahnya menjadi minuman.
Dengan mengolahnya secara sederhana, dirinya menyajikan pada teman-temannya yang direspons positif.

“Saya menyiapkan buah bogem menjadi sirup layak jual sampai 3 tahun. Saya uji sampai benar-benar aman dan siap dipasarkan” jelasnya.

Bekal produk olahan yang sudah terkenal dipasaran tersebut menjadi modalnya dalam mengedukasi warga.

Ia tak mau sembarangan menjual prodknya, produknya ia jual agar masyarakat mengetahui manfaat hutan angrove. Bahkan ia kerap melakukan pelatihan pada warga pesisir.

“Saya sudah keliling melatih menanam mangrove hingga memanfaatkan buah di area mangrove. Jadi saya mengubah pemikiran masyarakat pesisir, kalau mangrove jangan diambil kayuya. Banyak hal bermanfaat sekalain menebang mangrove,”tegasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved