DKPP Akan Buat Garam Beryodium Untuk Tingkatkan Kualitas Petani Garam Lokal

DKPP Kota Surabaya akan menyiapkan inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi garam di Surabaya. Ini langkah-langkahnya...

DKPP Akan Buat Garam Beryodium Untuk Tingkatkan Kualitas Petani Garam Lokal
surabaya.tribunnews.com/Bobby Constantine Koloway
Teknologi rumah garam yang digagas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur diharapkan dapat meningkatkan potensi produksi garam di Jatim. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKKP) Kota Surabaya menyiapkan inovasi untuk meningkatkan kualitas produksi garam di Surabaya.

Kini mereka sedang menyiapkan sistem produksi untuk membuat pengolahan garam menjadi lebih baik dan bernilai jual tinggi.

Kepala DKPP Kota Surabaya, Djoestamadji mengatakan, selama ini petani garam banyak yang memproduksi garam krosok. Biasanya garam ini digunakan untuk industri. Bukan untuk konsumsi garam dapur. Harganya lebih murah.

“Kalau sekarang produksinya masih garam krosok. Produksinya Kota Surabaya biasanya mencapai 140 ribu ton garam. Namun tahun ini memang sedang turun dan hanya 88 ribu ton saja. Tahun depan kita akan coba inovasi dengan produksi garam untuk produksi garam beryodium,” ucap Djoestamadji di DPRD Kota Surabaya, Senin (31/7/2017).

Menurutnya, saat ini proses produksi garam krosok oleh petani garam Surabaya masih tradisional. Dan belum modern, oleh sebab itu kualitasnya masih rendah. Jika ada mesin pengolah yang lebih bagus maka kualitas garamnya akan lebih bagus, dan lebih halus.

“Ini sedang kami siapkan untuk mesin produksinya. Untuk pemilahan air lautnya dan juga pencampurannya. Sebab nanti rencananya akan dilempar ke pasar dalam bentuk garam sudah beryodium,” kata Djoestamadji.

Berdasarkan data dari DKPP, saat ini cukup banyak petani di Surabaya. Yang tersebar di Kecamatan Benowo sebanyak 79 orang, di kecamatan Pakal sebanyak 41 orang dan di kecamatan Asemrowo sebanyak 4 orang petani. Teknik pembuatan garam di tiga kecamatan ini menggunakan metode geoiskolator.

“Mungkin tidak semua. Tapi kita akan uji coba sebagian untuk membuat garam beryodium mulai tahun depan,” ucapnya.

Menurutnya, jika Kota Surabaya memproduksi garam sendiri dengan produsennya petani lokal, kepercayaan warga Surabaya kepada produk garam juga akan meningkat. Terutama setelah adanya permasalhan isu garam campuran batu dan tawas.

Selain itu ia mengatakan kondisi garam saat ini di Surabaya masih belum normal. Harga garam masih tinggi dan masih ada kelangkaan lantaran kondisi garam di gudang Surabaya sudah kosong.

“Kita sebenarnya masih bisa produksi, namun sangat bergantung pada cuaca. Ini sedang produksi. Kalau tidak ada hujan sepuluh hari sudah bisa panen,” katanya.

Di sisi lain, anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya Mochammad Mahmud mengatakan petani garam harus mendapatkan perlindungan. Sebelum terjadi masalah gagal panen seharusnya sudah diberikan sentuhan bantuan.

“Cuaca saat ini kan sudah bisa diramal. Di Surabaya, Gresik ini sudah bisa diramal, paling tidak pemerintah memberikan informasi ke petani, akan hujan jadi harus segera dipanen,” ucap Mahmud.

Politisi Partai Demokrat ini mengatakan, petani selama ini dijadikan komoditi informasi. Dikatakan mendapatkan pembinaan bermacam-macam padahal tidak ada bantuan perhatian.

“Terutama tekonologi. Selama ini petani membuatnya selalu tradisional, kami mendorong Pemkot untuk membuat inovasi produksi garam. Yang bisa membuat kualitas garam lokal bisa lebih dimintati dan daya jualnya juga meningkat,” ucapnya. 

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved