Breaking News:

Bangun Rumah Sehat, Yayasan Orbit Bantu Rehabilitasi Pengguna Narkotika

Yayasan Orbit meresmikan rumah sehat untuk merehabilitasi para pecandu narkoba dan korban penyalahgunaan narkoba lainnya di Surabaya.

surabaya.tribunnews.com/Ahmad Zaimul Haq
Para korban Napza menulis pernyataan tidak akan kembali lagi jatuh ke pengaruh penyalahgunaan narkoba di Yayasan Orbit Surabaya usai peresmian Rumah Rehab yang diberi nama Rumah Sehat Orbit Surabaya untuk merehab para korban Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) di Perumahan Margorejo Indah Utara Blok B No 922, Jumat (21/7). Rumah rehab terdiri dari lima kamar ini berkapasitas 40 orang itu untuk para penyalahguna narkoba dibina intensif selama 3 bulan sampai pulih dari ketergantungan narkoba. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Raut Yayuk Setyaningsih tampak sumringah saat acara pembukaan Rumah Sehat Orbit Surabaya (SOS) di Jalan Margeorejo Utara B No 922.

Gadis usia 16 tahun ini adalah satu-satunya perempuan yang kini menjalani rehabilitasi untuk lepas dari zat aditif sabu-sabu.

Sejak dua bulan lalu ia sudah menjalani rehabilitasi bersama 25 temannya di bawah Yayasan Orbit Surabaya. Sebelum pindah ke Margorejo, Yayuk mengaku sehari-harinya ia menjalani terapi di bilangan Pandugo, Rungkut.

“Aku mulai pakai sabu-sabu tiga bulanan yang lalu. Nggak pakai beli, aku ikut bandar. Setiap bandar makai sabu, aku juga ikut makai,” ucap anak yang sudah putus sekolah dari SD ini.

Yayuk mengaku lingkungannya lah yang membawanya kenal dengan barang haram tersebut. Sejak menjadi pecandu, ia mengaku banyak yang berubah pada dirinya.

“Aku jadi emosian, sering bertengkar sama empat saudaraku, sampai-sampai aku diusir sama orang tua,” kata gadis berambut pendek sebahu ini.

Apalagi sejak orang tuanya mengetahui bahwa anaknya sudah lama menggunakan sabu-sabu, tidak hanya marah. Ia bahkan tidak diterima saat pulang ke rumahnya.

Hal itu membuat Yayuk kecewa hingga aakhirnya meminta untuk direhabilitasi di Yayasan Orbit. Selama dua bulan melajani rehab dirasakan Yayuk, sudah banyak perubahan yang ia rasakan.

“Aku jadi disiplin. Aku bisa bangun pagi untuk salat subuh. Sudah mulai lupa untuk harus konsumsi sabu-sabu,” ucapnya.

Menurutnya, metode rehabilitasi yang ia terima adalah pendekatan keagamaan. Setiap mulai ketagihan ia diajak mengaji dan diberi buku bacaan yang adi di rumah sehat mereka. Setelah tahu rasanya kecaduan dan sakit ia meminta anak-anak seusianya untuk tidak mencaoba barang narkotikan seperti dirinya.

Klien Kian Banyak

Pembina Rumah SOS Rudhy Wedhasmara mengatakan rumah sehat ini dibangun seiring dengan meningkatkan jumlah korban penyalahgunaan narkotika. Di bawah yayasannya jumlah orang yang direhabilitasi pun semakin tahun semakin meningkat.

“Kami rata-rata per tahun menangani sebanyak 100 hingga 150 orang. Baik itu yang minta direhabilitasi sampai yang direhab karena putusan pengadilan. Dan trennya saat ini yang banyak adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun dibandingkan yang dewasa,” ucap Rudhy, usai acara pembukaan Rumah SOS.

Namun yang ia sayangkan kesaddaran lingkungan pada pelaku penyalahgunaan narkotika masih rendah. Banyak masyaraka yang cenderung menjauhi pengguna narkotika. Bukan malah mencoba untuk membawanya ke tempat rehabiilitasi.

Untuk itu, sebaggai mantan pengguna narkotika yang sudah sembuh, Rudhy dan kawan lain di Yayasan Orbit ingin membantu para pecandu narkotika untuk bisa sembuh.

“Sebagai mantan pengguna kami memiliki sense of belonging yang menjadikan kami lebih dekat dengan mereka dan mencoba membantu mereka untuk bisa lepas dari candu narkotika,” kata Rudhy.

Menurutnya, ada beberapa tahapan untuk bisa direhabilitasi di Rumah SOS ini. Yang pertama adalah dilakukan assesment pada pengguna. Assesment ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan kecanduan pada pengguna.

“Berikutnya kami melakukan perencanaan terapi. Jadi kami tiddak langsung direct teraphy, tapi kami lakukan komunikasi juga ke mereka berapa kali harus ketemu dengan psikolog,” ulasnya.

Di rumah SOS ini disediakan tenaga medis. Mulai dokter, pendamping konselor, psikiater, psikolog dan juga pekerja sosial. Jumlahnya ada sekitar sebelas orang. Pengguna yang menjalani rehabillitasi di sini lewat rawat jalan atau dengan rawat inap.

“Di sini kami memiliki kapasitas 50 bed. Siklus rehab kami ada tiga bulan. Setiap tiga bulan itu kami evaluasi untuk setiap peserta rehab,” ucap Rudhy.

Selama menjadi rehabilitasi di sini, Rumah SOS tidak mematok biaya tertentu. Mereka juga mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial, namun untuk kuota sebanyak 40. Namun pihaknya menjamin bagi warga miskinn yang memiliki Surat Tanda Miskin tidak akan dikenai biaya untuk menjali rehabilitasi. 

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved