Berita Surabaya
Orang Tua Dokter Muda Itu Menangis saat Tahu Putri Bungsunya Divonis Idap Tumor Otak
Sang ayah sempat menangis menceritakan kondisi putrinya pada rekan kerjanya saat meminta izin cuti.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | SURABAYA – Keluarga DA (24), dokter muda (koas) asal Yogyakarta yang menjalani operasi pengangkatan tumor otak dalam keadaan sadar memilih mengambil cuti.
Orangtua DA, Syafwan Zubir (61) dan Zuherlis (56) mengambil cuti selama 4 bulan setelah mengetahui diagnosa tumor putri bungsunya tersebut.
Tak hanya Syafwan dan Zuherlis, putri kedua mereka yang menjadi dokter umum bahkan mengikuti jalannya operasi.
Bu Lis, sapaan Zuherlis bahkan sempat syok saat bertemu dokter pembimbing anaknya yang menjelaskan hasil CT Scan putri ketiganya tersebut.
Meski terbiasa melihat operasi dengan profesinya sebagai perawat, Lis sama sekali tak menduga sakit kepala yang sering dialami putrinya sejak SMA ternyata merupakan tumor.
“Seminggu puasa baru dikasih tahu dokter pembimbingnya pas di Yogyakarta. Bukan syok lagi, badan seperti nggak ada tulang. Saya pasrah, berusaha dan berdoa,” ungkapnya saat menunggu jalannya operasi, Selasa (11/7/2017).
Usai mendapatkan hasil CT Scan, Lis mengajak putrinya melakukan MRI dan mendapat rekomendasi penanganan lebih lanjut pada spesialis bedah syaraf di Jakarta atau Surabaya.
Surabaya akhirnya dipilih karena kerabat Lis juga tinggal di Surabaya.
“Anaknya rajin belajar dan ibadah, bahkan dia juga sempat tahu bocoran dari dokternya kalau otaknya bengkak. Ia telpon kakaknya dan nangis bilangnya pingin hidup dan jadi dokter. Dan malah nggak boleh kasih tahu saya sama papanya. Padahal kami tahu duluan,” ujar wanita yang juga perawat gigi ini.
Upaya merawat dan mendampingi putrinya dimulai ketika Lis dan suaminya meminta cuti hingga 4 bulan.
Bahkan sang ayah sempat menangis menceritakan kondisi putrinya pada rekan kerjanya untuk meminta izin cuti.
“Malah ia yang menguatkan saya dan menyuruh saya jangan nangis,” kenang Syafwan.
Ketika mengenang tekad dan perjuangan anaknya, Syafwan selalu tidak bisa menahan air matanya.
Termasuk saat bercerita berbagai tulisan motivasi di kamar anaknya yang bertekad menjadi dokter yang baik hingga umroh dan keliling dunia.
“Kami akan menemani hingga pengobatan selesai, kami memilih di RSI Jemursari juga karena antriannya tidak ada. Beda dengan di RSUD Dr Soetomo yang banyak, kasian kalau terus minum obat penahan rasa sakit,” ujarnya.
Dikatakan Syafwan, pengobatan anaknya ini menggunakan layanan BPJS Kesehatan. Dengan biaya yang tercover sekitar 40 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/rsi-jemursari_20170711_154553.jpg)