Rabu, 6 Mei 2026

Berita Inovasi

Mahasiswa ITS Buat Alat Pemurni Biogas Menggunakan Air, ini Pertimbangannya

“Padahal biogas sangat efisien, sayangnya kalau pakai biogas warga harus mengganti selang kompornya karena korosi,” jelas Radian Indra.

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
surya/sulvi sofiana
Mahasiswa ITS jurusan Teknik Fisika semester 2, Dhirga Kurniawan (kanan) bersama rekannya jurusan Teknik Instrumentasi semester 6, Endlys Devira Yonando menjelaskan cara kerja purifikasi biogas secara otomatis dengan menggunakan metode scrrubber system, Senin (10/7/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Biogas merupakan energi alternatif yang saat ini marak digunakan untuk berbagai kebutuhan. Biogas juga bisa dibuat melalui kotoran hewan seperti kotoran sapi. Sayangnya dalam biogas juga terdapat berbagai zat yang merugikan bagi penggunanya.

Seperti hydrogen sulphide (H2S) yang mengakibatkan korosi pada berbagai peralatan yang bersentuhan dengan biogas.

Hal ini terjadi di salah satu desa di Nongkojajar, Kabupaten Malang. Di desa mandiri tersebut, mahasiswa menemukan biogas tidak digunakan maksimal.

Sebab, warga harus mengganti seluruh peralatan kompornya menyesuaikan biogas, sehingga warga tidak lagi maksimal menggunakan biogas.

“Padahal biogas sangat efisien, sayangnya kalau pakai biogas warga harus mengganti selang kompornya karena korosi,” jelas Radian Indra (22) mahasiswa Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada SURYA.co.id, Senin (10/7/2017).

Dikatakannya, selama ini alat pemurni biogas masih menggunakan bahan kimia. Sehingga ia dan 4 temannya, Endlys Devira (21),Eka Wahyu (21), Layly dian ( 22) dan Dhirga Kurniawan (22) berinovasi menggunakan air untuk mengurangi zat H2S dalam biogas.

Menggunakan water scrubber system, tim yang mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa Karya Cipta (PKM –KC) ini membuat alat purifikasi biogas otomatis.

“Biogas jika tidak terfilter juga bisa meracuni warga, makanya kami membuat alat filter ini agar bisa digunakan warga dengan aman,” jelasnya.

Menggunakan tabung yang dibuat dari akrilik, alat yang mereka buat akan menyemprotan air dalam tabung yang juga mengalirkan biogas. Hasil pemurnian ini kemudian bisa disalurkan melalui pipa pada warga.

“Awalnya kami membuat dari paralon, tapi sulit juga memantau efektif tidak pemurniannya. Makanya kami ubah pakai akrilik. Tapi ya rawan pecah,” jelasnya.

Usai mendesai tabung pemurnian biogas menggunakan akrilik. Tim dari jurusan teknik fisika ini masih menemukan kendala. Yakni pemurnian yang belum maksimal karena besarnya ukuran partikel ait yang disemprotkan dalam pemurnian.

“Hasil spray airnya berpengaruh, semakin berkabut semakin mudah air mengikat H2S dan memurnikan biogas. Kami sempat mengganti sampai 3 kali noozle atau lebar lubang penyemprotannya,” tambah Endlys.

Usaha mereka mencari ukuran noozle pada penyemprot yang biasa digunakan pada semprotan taman otomatis itu membuahkan hasil. Hasil analisa akhir alat mereka telah mampu mengurangi kadar H2S sampai 98,26 persen.

“Pemurnian H2S ini diharapkan bisa memberikan outputnya gas dengan kalori lebih tinggi sehingga diharapkan bisa lebih banyak gas. Kedepan kami akan mengenalkan alat ini pada warga dan merisetnya kembali sebelum benar-benar diterapkan warga,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved