Sambang Kampung

Warga Rungkut Ternak Kambing dan Sapi di Perkotaan, Atur Pola Makan Hewan agar Kandang Tak Bau

Bedanya, peternakan kampung ini memiliki keunggulan, yaitu bisa membuat kandang kambing dan sapi mereka, tidak berbau menyengat.

Warga Rungkut Ternak Kambing dan Sapi di Perkotaan, Atur Pola Makan Hewan agar Kandang Tak Bau
surya/sugiharto
Zaenal memberi makan sapinya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Surabaya, surya - Beternak sapi atau kambing kerap di lakukan di pedesaan. Di kota, ternak hewan memamah biak kerap tidak menjadi pilihan, lantaran menimbulkan bau dan tidak diperkenankan oleh warga lain.

Namun, hal itu tidak terjadi di kampung RT 6 RW 10 Kelurahan Rungkut, Kecamatan Rungkut. Pasalnya, warga di sini mengembangkan hewan ternak sapi dan kambing, dengan memanfaatkan lahan tidur.

Bedanya, peternakan kampung ini memiliki keunggulan, yaitu bisa membuat kandang kambing dan sapi mereka, tidak berbau menyengat seperti kandang kebanyakan. Sehingga, tidak membuat komplain dari warga lain.

Zaenal Fanani, pemilik kandang mengatakan, ada tiga warga yang ikut menjalankan peternakan unik ini. Rahasia kandang mereka tidak berbau menyengat, ternyata dengan mengatur pola makan hewan ternak.

"Saat ini mengelola ternak serba maju. Kami memakai fermentasi pakan dengan membuat suplemen ternak organik (STO)," ucap Zaenal, Jumat (7/7/2017).

Suplemen itu dibuat dengan menggiling jerami kering dan dicacah, lalu dicampur makanan ternak berupa rumput.

Selain itu, ada campuran glukosa dan bakteri laktobasil yang dikembangbiakkan untuk dicampurkan ke dalan pakan hewan ternak.

"Dengan campuran fermentasi STO itu, pencernaan hewan jadi baik. Sehingga, kotoran yang dihasilkan tidak berbau menyengat," ujar Zaenal.

Fermentasi itu bisa dicampurkan, baik dalam minuman atau makanan hewan. Menurutnya, ilmu itu didapat dari berbagai cara. Salah satunya otodidak dan membaca banyak referensi.

Zaenal ingin teknik ini bisa dikembangkan lebih jauh agar banyak warga yang mau beternak. Bukan hanya yang di desa saja, melainkan di kota besar seperti Surabaya.

"Saya sendiri merasakan, sulitnya mencari pekerja. Saat ini saya punya empat pekerja. Namun kebanyakan dari luar kota semua," katanya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved