Berita Sidoarjo

Pemkab Sidoarjo Luncurkan Aplikasi e-Nyank Pasar, Tujuannya ternyata seperti ini

Fenny menuturkan para pedagang membayar retribusi melalui telpon seluler masing-masing. Bahkan, memakai hape jadul pun bisa dilakukan.

surya/irwan syairwan
E-NYANK PASAR - Kepala disperindag (berjilbab) fenny apridawati sedang mengajarkan penggunaan aplikasi e-nyank pasar di pasar gedangan. 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Mencegah potensi pungutan liar (pungli), Pemkab Sidoarjo melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) membuat aplikasi e-Nyank Pasar (ENP).

Aplikasi ini digunakan menarik retribusi pedagang pasar yang nantinya masuk menjadi pendapatan asli daerah (PAD) Kota Delta.

Kepala Disperindag Sidoarjo, Fenny Apridawati, mengatakan meluncurkan aplikasi ENP ini berkaca pada kasus dugaan pungli dan korupsi retribusi Pasar Porong yang dibongkar polisi beberapa waktu lalu. Tiga orang oknum PNS termasuk Kepala UPT Pasar Porong ditangkap karena diduga memungli dan menilap retribusi para pedagang.

"Dengan aplikasi ENP ini saya jamin 100 persen bebas pungli dan korupsi retribusi pasar," kata Fenny saat sosialisasi aplikasi ENP di Pasar Gedangan, Rabu (5/7/2017).

Fenny menuturkan para pedagang membayar retribusi melalui telpon seluler masing-masing. Bahkan, memakai hape jadul pun bisa dilakukan.

Disperindag bekerjasama dengan salah satu provider telekomunikasi untuk penyediaan sarananya.

Di hape para pedagang nantinya ditempeli stiker elektronik provider tersebut. Stiker tersebut berfungsi sebagai uang elektronik, di mana para pedagang bisa membelinya seperti membeli pulsa.

"Membayar retribusinya cukup menempelkan stiker tersebut pada alat yang nanti dibawa petugas," sambungnya.

Dengan sistem baru ini, lanjut Fenny, akan meminimalisir bahkan menghilangkan kesempatan pungli maupun korupsi. Sebab, data para pedagang sudah terekam jelas di data base aplikasi.

Dalam setahun, pemasukan retribusi pasar untuk PAD sebanyak Rp 11,7 miliar dari tarikan kepada sekitar 15.000 pedagang pasar.

Adanya aplikasi ini diharapkan akan meningkatkan pemasukan setidaknya 30 persen.

Dijelaskan, kasus di Pasar Porong kemungkinan hanya gunung es. Oknum petugas menggelapkan data dan menyerahkan data palsu tersebut ke Disperindag selama bertahun-tahun.

"Target sampai akhir tahun akan ada delapan pasar yang penarikan retribusinya menggunakan ENP. Namun untuk 2018 akan kami usahakan seluruh pasar," paparnya.

Salah satu pedagang Pasar Gedangan Sumbri Yanto, mengaku masih belum terbiasa memakai ENP. Biasanya, pedagang kelapa ini membayar Rp 6.000 per hari untuk dua kiosnya dari petugas langsung.

"Harus belajar dulu menggunakannya. Dari Disperindag harus menyediakan semua peralatannya di pasar," tukas Yanto.

Penulis: Irwan Syairwan
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved