Inovasi

Mahasiswa Unair Buat Obat Penyembuh Luka dari Ekstrak Lidah Buaya

"Kami memutuskan untuk membuat kompres luka dari tanaman lidah buaya (Aloe vera) ini dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM."

Mahasiswa Unair Buat Obat Penyembuh Luka dari Ekstrak Lidah Buaya
surya/sulvi sofiana
Tim PKMK ‘Kompas menunjukkan pemakaian produk yang diproduksi dari ekstrak Aloe Vera. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tanaman lidah buaya (Aloe vera) lebih dikenal masyarakat sebagai tanaman hias. Padahal tanaman ini mengandung berbagai zat aktif yang dapat dipakai untuk menyembuhkan luka.

Penanganan luka selama ini juga cikup beragam, dan tak jarang masih menggunakan bahan kimia.

Hal ini dibuktikan mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan berinovasi dengan membuat penyembuh luka dari ekstrak Aloe Vera.

Mereka yaitu Muhammad Hidayatullah Al-Muslim (2016), Dinda Dhia Aldin Kholidiyah (2016), Kusnul Oktania (2016) dan Retno Dwi Susanti (2014), inovasi baru penyembuh luka ini diberi nama Kompas kependekan dari “Kompres Penyembuh Luka Aloe Vera”.

"Kami memutuskan untuk membuat kompres luka dari tanaman lidah buaya (Aloe vera) ini dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang didanai Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, karena Aloe Vera mempunyai potensi cukup besar sebagai bahan baku obat alami,” ungkap Retno, Selasa (4/7/2017).

Menurut gadis yang juga anggota paling senior di tim PKM ini, Aloe Vera terdapat kandungan saponin dan flavonoid, bahkan juga mengandung tanin dan polifenol.

Saponin berfungsi sebagai pembersih sehingga efektif untuk menyembuhkan luka, sedangkan tanin dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik.

“Jadi cukup efektif dijadikan sebagai penyembuh luka,” lanjutnya.

Muhammad Hidayatullah Al-Muslim, ketua PKMK ini, menambahkan produk kompres ini merupakan produk kompres luka yang ampuh dan cukup praktis untuk dipakai.

Penggunaannya cukup dengan membersihkan luka terlebih dahulu, kemudian menempelkan Kompas pada luka tersebut.

”Orang-orang lebih sering mengira bahwa luka harus dibuat kering dan diangin-anginkan agar cepat sembuh. Padahal kondisi lembap bisa membantu sel fibroblas membentuk jaringan baru yang menutup luka. Jadi kelembapan juga mengurangi jumlah eksudat atau cairan yang keluar dari luka,” jelas Dayat, panggilan akrabnya.

Ia menegaskan, perawatan luka yang baik masih dengan menggunakan pembalut luka modern, seperti plester.
Sehingga bisa menjaga kelembapan luka. Untuk itu dianjurkan untuk tidak menggunakan kain kasa, karena kain kasa tidak bisa menjaga kelembapan luka dan membuat proses penyembuhan luka menjadi lebih lama.

”Berbeda dengan luka yang sudah lama, yang sudah bernanah misalnya, maka perawatannya tidak perlu ditutup. Dibiarkan terbuka saja. Jadi dengan adanya produk Kompas ini, kami harapkan sangat efektif untuk proses penyembuhan luka,” tambah anggota tim lainnya, Kusnul Oktania.

Produk mereka juga telah dikemas secara rapi untuk siap pakai. Dalam satu kemasan berisi tiga biji Kompas.

“Kalau kami jual per kemasan harganya Rp 15.000, tapi kalau ada yang ingin membeli per biji, kami siap melayani juga. Jadi kalau per biji dijual Rp 5.000,” kata Dinda.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved