Profil

Adebela Mustika: Lebaran Istimewa

"Selama enam tahun Lebaran, baru tahun ini bisa ikut berlebaran bareng keluarga," kata bungsu dari tiga bersaudara.

Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Parmin
surya/Rahadian Bagus
Adebela Mustika 

SURYA.co.id | MADIUN - Lebaran tahun ini, begitu istimewa bagi gadis memiliki nama panjang
Adebela Mustika ini. Tahun ini, dara akrab disapa Bela ini bisa berkumpul bersama keluarga, dan merayakan Lebaran meski hanya sehari.

Wanita kelahiran Madiun 28 Februari 1993 ini, mengaku enam tahun tidak dapat merayakan Lebaran bersama keluarga.

Maklum, profesinya sebagai kondektris menuntutnya harus tetap bekerja meski tanggal di kalender berwarna merah. Sebagai pegawai PT KAI Daop 7, Bela tidak mendapatkan jatah libur atau cuti pada saat libur hari raya.

Namun, tahun ini berbeda. Hari Raya Idul Fitri jatuh pada saat jatah hari liburnya. Di tempat kejanya Bela mendapatkan libur sehari dalam seminggu.

"Selama enam tahun Lebaran, baru tahun ini bisa ikut berlebaran bareng keluarga," kata bungsu dari tiga bersaudara.

Penggemar mi ayam dan bakso ini menuturkan, meski hanya sehari merayakan Lebaran dan salat Ied bersama keluarga, namun hal itu sangat istimewa baginya. Kesempatan itu ia gunakan untuk bertemu keluarga dan saudara-saudaranya.

"Kalau tahun-tahun sebelumnya, silaturahmi ke orang-orang, paling hanya lewat media sosial, nggak bisa foto-foto bareng keluarga juga," katanya.

Mahasiswi semester akhir jurusan Manajemen Akutansi Universitas Terbuka ini sudah enam tahun menjalani profesinya sebagai kondektris.

Ia pernah ditempatkan di berbagai daerah, seperti Semarang, Surabaya, Kutoarjo, Malang, Blitar, Jogja.

Dalam tugasnya Bela menjadi kooridnator penanggungjawab di atas kereta. Tidak hanya memeriksa tiket, namun ia juga memastikan penumpang aman dan nyaman selama perjalanan.

Ia merupakan satu-satunya kondektris di PT KAI Daop 7. Pemilik akun instagram @abprawira ini mengaku memiliki banyak pengalaman berkesan selama menjalani profesinya itu.

Penghobi olahraga badminton ini mengaku kerap digoda penumpang saat ia bekerja, seperti mengajak berkenalan.

Namun, itu semua dianggapnya hal yang lumrah. Bahkan ia sempat mengalami hal buruk, yakni bersitegang dengan oknum aparat yang tidak memiliki tiket.

"Dukanya pernah bermusuhan dengan oknum aparat, tapi itu dulu tahun 2011 ketika masih masa transisi, masih ada penumpang tidak memiliki tiket," kata gadis berkulit putih ini.

Tak hanya berhadapan dengan oknum aparat tak bertiket, Bela juga mengku kerap bersitegang dengan penjual asongan.

"Saya pernah diancam santet, gara-gara menurunkan ketua asongan se-Jawa dari kereta di Nganjuk," katanya.

Meski, profesinya menuntut peran serta tanggung jawab besar ia mengaku sangat menikmati pekerjaaanya, termasuk risiko tidak mendapatkan libur Lebaran.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved