Jumat, 10 April 2026

Sambang Kampung

VIDEO - Serunya Menyambut Lebaran Ketupat di Kampung Lawas Maspati Surabaya

Lebaran baru usai. Tetapi tidak sepenuhnya demikian bagi masyarakat Jawa, karena masih ada lebaran ketupat. Seperti di kampung Maspati ini lho....

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Eben Haezer Panca

SURYA.co.id | SURABAYA - Tradisi kupatan atau lebaran ketupat sudah terlihat di sebagian pemukiman di Surabaya. Sejumlah warga mulai membuat ketupat untuk dikonsumsi malam Jumat Legi nanti.

Salah satunya di Kampung Lawas Maspati gang 6, RT 5/RW 6 Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Beberapa warga tampak asyik membuat ketupat sejak sore hari.

"Di kampung Maspati ini biasanya kami membuat ketupat dengan hitungan Sepasar, yaitu sesuai hitungan pasar Jawa, yang jatuh pada Jumat Legi, karena hari raya kemarin jatuh pada Minggu Legi, itu namanya sepasar," tutur Muhammad Agus Nawawi, warga Jalan Maspati, Kamis (29/6/2017).

Agus menjelaskan, malam Jumat Legi menurut orang Jawa adalah hari sakral untuk memanjatkan doa agar hajatnya berjalan lancar.

"Kebanyakan orang Surabaya dan masyarakat Maspati sendiri mengikuti sepasar ini. Tapi ada juga warga yang merayakan ketupat tujuh hari setelah lebaran," jelasnya.

Agus mengaku ketupat adalah tradisi yang tak boleh dilewatkan. Ini lantaran makna dari perayaan ini, yang sangat dalam.

"Ketupat ini artinya pengakuan dari kesalahan kita, untuk memohon maaf. Kenapa beras? Karena menggambarkan kita harus saling bersatu. Supaya cocok, kami akan pakai sayur manisah, yang punya arti supaya iso manis marang sesama, atau marang pada-pada," tambahnya.

Mei Ernawati, warga Maspati gang 6 yang lain menjelaskan malam nanti mereka akan mulai memasak ketupat.

"Tradisi ini masih terus berjalan di masyarakat kami. Ketupat akan kami bagi kepada orang-orang yang sudah sepuh untuk bisa dinikmati bersama keluarga. Sebagaimana filosofi ketupat itu sendiri," sergahnya.

Mei menjelaskan meski begitu, masih ada beberapa warga yang memang sengaja tak membuat ketupat. Ini bisa karena banyak soal. Salah satunya kondisi ekonomi, atau bahkan karena memang tidak mengindhakan tradisi itu sendiri.

"Kalau saya sekeluarga selalu berusaha sebisa mungkin membuat ketupat, berapa pun jumlahnya. Entah bisa memberi orang atau tidak. Ini karena kami percaya dengan tradisi ini kami sekeluarga bisa sama-sama melestarikan budaya. Saling meminta maaf dan mendoakan," terangnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved