Diduga Merugikan Negara Miliaran Rupiah, Kejari Usut Dugaan Penyelewengan Dana Hibah Non Pendidikan

Kejari Surabaya sedang mengusut dugaan penyelewengan dana hibah non pendidikan yang diduga merugikan negara sebesar miliaran Rupiah.

Diduga Merugikan Negara Miliaran Rupiah, Kejari Usut Dugaan Penyelewengan Dana Hibah Non Pendidikan
surabaya.tribunnews.com/Anas Miftakhudin
Kajari Surabaya, Didik Farkhan Alisyahdi SH 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya mulai mengusut dugaan penyelewengan dana hibah non pendidikan yang dikucurkan dari APBD Pemkot Surabaya tahun anggaran 2015-2016.

Dalam kasus ini, penyidik mencium indikasi potensi kerugian negara yang diduga mencapai miliaran rupiah.

Kajari Surabaya, Didik Farkhan Alisyahdi SH, menuturkan penyidik Pidana Khusus (Pidsus) telah menaikan status perkara ini dari penyelidikan ke penyidik. "Tanggal 12 Juni kemarin sudah kami tingkatkan statusnya ke penyidikan," ujat Didik Farkhan, Jum'at (16/6/2017).

Dugaan tindak pidana korupsi ini bermula dari temuan penyidik terkait permohonan proposal yang diajukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Advertising, yang diketuai Bagus Prasetyo Wibowo.

Pada 9 September 2013, KUB Advertising mengajukan proposal ke wali kota Surabaya melalui Bapemas Kota Surabaya, sebesar Rp 4,4 miliar.

Dalam proposal itu, KUB Advertising mengajukan beberapa pengadaan barang, yakni mesin printing digital merk Gong Xen senilai Rp 324.000.000. Mesin foto kopi merek Cannon seharga Rp 42,5 juta dan dua unit komputer imex, masing-masing seharga Rp 26 juta.

Pada Februari 2014, Pemkot Surabaya mengabulkan proposal itu tapi hanya direalisasi Rp 370.000.000.

"Nah setelah diselidiki, ternyata KUB Advertising yang dibentuk pemohon tidak ada alias fiktif," ujar jaksa asal Bojonegoro.

Selain itu, Bagus Prasetyo Wibowo selaku ketua KUB Advertising membuat susunan pengurus yang fiktif pula.

"Setelah kami klarifikasi, ternyata semua pengurus dan anggotanya itu tidak tahu pembentukan KUB Advertising. Mereka hanya diminta KTP untuk dicarikan pekerjaan," jelas Didik Farkhan.

Penyidik menduga, mesin yang dibeli oleh KUB Advertising bukanlah mesin baru yang dibeli dari dana hibah itu. Tetapi barang itu sudah ada sebelum pengajuan pengadaan.

"Kami menduga mesin itu punya rekanan dari pendiri KUB Advertising bukan dibeli dari dana hibah. Apalagi saat ini mesin itu dalam kondisi rusak," terangnya.

Meski status perkara sudah ditingkatkan ke penyidikan, tapi hingga kini penyidik belum menetapkan tersangka. "Kami masih mengembangkan lagi," sambungnya.

Selain perkara ini, Didik Farkhan juga akan mengusut penyelewengan dana hibah yang lainnya. Namun kajari tak mau menyebut penyelewengan dana hibah apa saja yang diusut. Karena masih dalam penyelidikan.

"Kami juga akan menyentuh penyelewengan dana hibah yang lainnya, saat ini kami masih melakukan penyelidikan," ujarnya.

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved