DPRD Kota Surabaya

DPRD Kota Surabaya Kunjungi Jerman, Armuji: BPJS-nya Tanpa Kelas

“Saya melihat BPJS itu harus disamakan juga. Karena BPJS, layanannya menjadi berbeda (ada perbedaan kelas). BPJS dianggap untuk orang miskin."

DPRD Kota Surabaya Kunjungi Jerman, Armuji: BPJS-nya Tanpa Kelas
foto: Dok Armuji.
KUNJUNGAN - Ketua DPRD Surabaya Ir Armuji bersama sejumlah Anggota DPRD saat berada di Frankfurt, Jerman, Mei lalu. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sementera itu, dalam bidang olahraga, Ketua DPRD Kota Surabaya Ir Armuji menuturkan, pembinaan atlet di Frankfurt juga patut dicontoh. Anak dengan bakat olahraga sejak dini telah diarahkan sesuai minatnya.

Mereka ini lantas dimasukkan dalam sebuah kompleks seperti asrama yang di dalamnya terdapat fasilitas lapangan latihan sekelas Gelora Bung Tomo.

Data para pemain junior ini pun masuk secara online. Jadi, ketika sebuah klub membutuhkannya, tinggal cari di internet.

"Test interview masuknya juga di internet. Baru kemudian tes skill dipanggil secara fisik di lapangan," ungkap Armuji.

Setelah diterima dan masuk sebuah klub, para pemain ini bisa langsung mendapat gaji, baik itu untuk tim level tertinggi hingga paling rendah.

Hal itu juga terjadi bagi mereka yang baru lulus SMP. "Di Jerman, semuanya terekam dengan baik. Termasuk masalah usia, tidak ada istilah pemalsuan umur. Sampai-sampai, pertumbuhan otot seorang anak juga terekam," beber Cak Ji, panggilan akrab Armuji.

Cak Ji mengimpikan Kota Surabaya juga maju di bidang olahraga. Harus mulai ditetapkan sejak dini mereka harus benar-benar ditraining dan diarahkan.

“Sejak kecil jejaknya harus terekam. Begitu juga dengan fasilitas penunjang latihan, harus diperbanyak. Tidak seperti sekarang, mencari lapangan saja sulit,” sesalnya.

Sebab, lanjutnya, lapangan sepakbola di Surabaya saat ini bisa dihitung dengan jari. Bahkan jumlahnya tidak lebih dari lima.

Sedangkan soal kesehatan, masih menurut Armuji, di Jerman tidak ada kelas. Semua masyarakat, baik dari kalangan miskin maupun kaya, mendapat dokter dan rumah sakit dengan fasilitas yang sama baiknya.

Tak hanya itu. semua penanganan kesehatan juga diberikan secara gratis. Dari segala jenis penyakit, bebas biaya.

“Oleh karena itu, saya melihat BPJS itu harus disamakan juga. Karena BPJS, layanannya kemudian menjadi berbeda (ada perbedaan kelas). BPJS dianggap untuk orang miskin. Dokter juga begitu. Jangan karena gakin (keluarga miskin), penanganannya lambat," kata Cak Ji. (fai)

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved