Minggu, 19 April 2026

Berita Malang Raya

Polri dan Pemuka Agama di Kota Malang Sepakat Tangkal Radikalisme

Dalam penanganan teroris dan radikalisme, Polri tidak mungkin bekerja sendiri. Peran tokoh agama sangat dibutuhkan.

Penulis: Benni Indo | Editor: Yuli
surya/fatkhul alamy
ILUSTRASI - Brimob Polda Jatim melawan teroris. 

SURYA.co.id | MALANG - Forum ulama' lintas agama bertemu dengan Kapolres Malang Kota AKBP Hoiruddin Hasibuan dalam upaya antisipasi program derasikalisasi oleh Divisi Humas Mabes Polri. Kegiatan yang sudah berlangsung pada Rabu (7/6/2017) itu guna mencegah berkembangnya paham radikalisme serta anti Pancasila dan anti NKRI.

Dalam pertemuan itu, hadir beberapa di antaranya Kombes Pol Drs. Slamet Pribadi tim dari Div Humas Polri, AKBP Zahwandi Pandra Arsyad tim dari Div Humas Polri, AKBP Hoirudin Hasibuan, Kapolres Malang Kota, KH. Drs. Irfan Azis Ketua MUI Kec. Kedungkandang serta pengasuh Ponpes Alhayatul Islamiyah, KH. Baidlowi Muslich Ketua MUI kota Malang serta Pengasuh Ponpes Miftahul Huda Gading Malang, dan H. Ahmad Taufiq Kusuma Ketua FKUB kota Malang.

Pertemuan antara Kapolres Malang Kota bersama forum ulama lintas agama diadakan untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme serta anti Pancasila dan NKRI di wilayah hukum Kota Malang. Dalam pertemuan tersebut, seluruh ulama lintas agama Kota Malang di bawah kendali Majelis Ulama Indonesia (MUI) siap mendukung langkah Polri dalam rangka menanggulangi berkembangnya paham radikalisme.

Kapolres Malang Kota, AKBP Hoirudin Hasibuan mengatakan keberadaan dan keaktifan tokoh lintas agama memiliki peran strategis dalam mengantisipasi berkembangnya pemikiran anti Pancasila dan anti NKRI.

“Dalam penanganan teroris dan radikalisme, Polri tidak mungkin bekerja sendiri. Peran tokoh agama sangat dibutuhkan,” kata dia beberapa waktu lalu.

Menurutnya, radikalisme dan penganut pahamnya merupakan hal yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan oleh masyarakat luas, baik nasional maupun internasional. Oleh karena itu, perlu perhatian utama dari Polri pada kedatangan orang baru pun mahasiswa baru agar tidak dibina oleh kelompok kelompok radikal.

Dalam diskusi itu, disebutkan kalau mahasiswa memang menjadi sasaran utama penyebaran aliran radikalisme sehingga kegiatan dan aktivitasnya harus terus dipantau agar tidak sampai terjerumus dalam paham radikal.

Para tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat di Malang rutin berkomunikasi. “FKUB juga selalu berdiskusi dengan tokoh di perguruan tinggi dalam upaya mencegah masuknya paham radikal. Ada letupan sekecil apapun dari sisi agama mana, segera kita tugasi untuk ke lapangan. Info juga kami sampaikan ke Polres,” kata H. Ahmad Taufiq Kusuma, Ketua FKUB Kota Malang, Sabtu (10/6/2017).

Sementara itu, Lebih lanjut, KH. Baidlowi Muslich, mengatakan Pancasila dan NKRI yang menjadi warisan nenek moyang wajib untuk diamalkan. Selain itu, kerjasama antara Ulama dan Umaro sangat penting dan dibutuhkan. Di Indonesia antara Ulama dan Umaro sudah berhubungan dengan baik, segala permasalahan yang timbul dapat diselesaikan bersama.

“Permasalahan antar umat agama di Kota Malang sangat kondusif, justru yang banyak timbul adalah permasalahan di dalam intern agama sendiri. Sebagaimana paham radikalisme yang saat ini muncul di dalam Islam,” papar dia.

Para tokoh lintas agama lainnya, juga mendukung penuh langkah Polri dalam rangka menanggulangi berkembangnya Islam radikal, baik di lingkungan kampus maupun tempat tinggal. Mereka berada dalam satu suara dalam menolak radikalisme

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved